• Beranda
  • Blog
  • Halaman Utama
  • Home
  • Home 1
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Home 6
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
No Result
View All Result
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
Home Blog

Sunda, KDM dan Doni Monardo Contoh Teladan Kepemimpinan Ekologis

Admin Dentang by Admin Dentang
November 24, 2025
in Blog
Sunda, KDM dan Doni Monardo Contoh Teladan Kepemimpinan Ekologis
27
VIEWS

Silaturahmi Majelis Musyawarah Sunda, MMS II digelar   22 November 2025 di Gedung Sate. Tidak sekadar  ziarah peradaban inohong Sunda, juga untuk mengokohkan  ruh jatidiri Sunda. Ikhtiar kolektif memaknai “Sunda” tidak hanya dari sisi geografis, ekonomi dan politik  juga pada etika, budaya, dan kelestarian alam.

Pidato inspiratif pinisepuh MMS, Burhanuddin Abdullah, Taufikurahman Ruki, KDM hingga Wamendagri menarasikan makna Sunda dalam beragam konteks dan perspektif. Namun ada satu benang merah yang tegas, bahwa urang Sunda tidak boleh menjadi penonton di tengah krisis ekologi akut  harus berani tampil menjadi pemimpin ekologis.

Kepemimpinan ekologis, adalah mandat sejarah untuk menata masa depan ekologi Jawa Barat. Dalam kosmologi Sunda, alam tidak pernah ditempatkan sebagai objek eksploitasi, melainkan  mitra kehidupan yang menyatu dengan  manusia. Sungai, gunung, dan hutan  adalah ruang spiritual yang dibutuhkan menjaga keseimbangan hidup.

Dalam kearifan Sunda, terdapat falsafah hidup yang sangat relevan: “Saluyu jeung Alam” (selaras dengan alam). Sampah tidak diposisikan sebagai musuh yang dibuang jauh, tetapi sebagai bagian dari siklus kehidupan yang harus dikembalikan kepada fungsi alaminya. Nilai yang mengajarkan bahwa lingkungan yang bersih adalah cerminan batin yang bersih.

Sementara “leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak” menjadi pengingat bahwa kerusakan alam adalah awal dari kerusakan peradaban. Bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari identitas budaya dan spiritualnya, bukan sekadar program pemerintah.

Namun hari ini, sungai Citarum sebagai urat nadi warga Jawa Barat , sumber air baku DKI, sumber listrik bagi sebagian Jawa dan Bali tidak selalu mengalirkan kejernihan, masih membawa luka, limbah,aroma busuk, dan jejak panjang pengkhianatan manusia terhadap alam yang dulu mereka junjung sebagai ibu kehidupan.

Di sisi lain, krisis sampah semakin menguat, saat ini Bandung Raya mengalami darurat sampah, TPS meluap, TPA kelebihan beban, dan masyarakat lebih akrab dengan budaya buang daripada budaya pilah dan olah dari  sumbernya.

Karenanya kepemimpinan ekologis dalam perspektif Sunda menjadi semakin relevan. Ini bukan tentang soal siapa paling berkuasa, tetapi siapa yang paling mampu memikul amanah kosmik, untuk memulihkan relasi antara Tuhan, manusia, dan alam ( hablum minal alam)

Sayangnya, hari ini kesadaran itu terkikis oleh gaya hidup modern yang instan, konsumerisme, dan tata kelola perkotaan yang lebih sibuk memindahkan sampah daripada menyelesaikannya. Darurat sampah bukan hanya krisis lingkungan, juga gejala keruntuhan etika ekologis dalam kehidupan modern.

Memulihkan Citarum berarti memulihkan kesadaran; menyelesaikan sampah berarti menyembuhkan cara pandang kita terhadap kehidupan.

Dalam filosofi Sunda, alam dijaga bukan karena adanya instruksi birokrasi, tetapi lahir dari kesadaran batin bahwa merusak alam sama dengan merusak keberlanjutan hidupnya sendiri.

Data KLHK yang disampaikan KDM, Jabar  kehilangan 1,2 – 1,4 juta hektar ruang hijau. Sesungguhnya  bukan hanya angka, adalah ruang nafas warga kota yang hilang, ruang anak-anak bermain yang lenyap, ruang alam yang menjadi korban pembangunan tak terkendali.

Menyelesaikan sampah berarti menyembuhkan cara pandang kita terhadap kehidupan. Sebab selama sampah masih kita anggap urusan orang lain, selama alam masih dianggap sekadar objek, maka krisis ini bukan hanya bertahan, tetapi akan diwariskan sebagai dosa ekologis lintas generasi.

Doni Monardo dan KDM

Dalam konteks saat ini Jenderal Doni Monardo, mantan Pangdam Siliwangi, salah satu inspirator Citarum Harum, hadir bukan semata sebagai figur militer, melainkan sebagai penanda zaman. Pemimpin yang berupaya merubah cara pandang pembangunan tetap dalam bingkai kesadaran ekologis yang merawat bukan merusak.

Memaknai krisis lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi persoalan cara berpikir, cara merasakan, dan cara memaknai hubungan manusia dengan alam. Sungai Citarum,  tidak sekadar dipulihkan secara fisik, melainkan dikembalikan martabatnya sebagai ruang hidup dan ruang spiritual masyarakat Sunda

Kepemimpinan ekologis yang ditunjukkannya, menegaskan bahwa pembangunan  bukan hanya tentang  infrastruktur, melainkan tentang membangun kesadaran kolektif agar manusia tidak lagi hidup dengan menaklukkan alam, tetapi berdialog dan bersaling-jaga dengan alam “kita jaga alam dan alam menjaga kita”

KDM hadir sebagai kepala daerah Jawa Barat, namun perannya melampaui sekadar birokrat . Ia menempatkan dirinya sebagai penjaga titah alam, pengemban mandat leluhur yang diwariskan dari nilai-nilai karuhun Sunda untuk “mengurus lembur, menata kota” dengan kesadaran ekologis

Dalam pandangannya, pembangunan tidak boleh memutus relasi sakral antara manusia dan alam. Kepemimpinannya merepresentasikan usaha merawat harmoni antara modernitas dan kearifan lokal, antara kebijakan negara dan suara alam semesta.

Merujuk konsep tata ruang Sunda, “gunung kudu awian, lengkob kudu balongan, lebak kudu sawahan” sebuah panduan ekologis yang mengajarkan keseimbangan ruang hidup: gunung harus tetap berhutan agar menjadi sumber air, dataran rendah dimanfaatkan secara arif untuk pertanian yang menopang kebutuhan pangan.

Prinsip ini menunjukkan bahwa penataan wilayah sejatinya bukan semata persoalan teknis tata kota, melainkan bagian dari etika peradaban. Ketika prinsip ini diabaikan, bencana datang sebagai koreksi alam; ketika dijalankan dengan kesadaran, lahirlah tatanan ruang yang lestari dan berkeadilan lintas generasi.

Dalam penanganan rehabilitasi DAS Citarum, dan bencana ekologis, kedua tokoh memimpin bukan hanya dari podium, melainkan dari tanah yang basah dan udara yang sesak. Ia seperti seorang prajurit yang tidak hanya membawa komando, tetapi membawa empati pada alam yang nyaris kehilangan suaranya.

Dalam Bahasa sufistik “Pemimpin sejati bukan yang paling tinggi singgasananya, tetapi yang paling dalam getaran nuraninya.” Pendekatan Doni Monardo dan KDM memperlihatkan bahwa krisis ekologis tidak bisa diselesaikan hanya melalui intruksi juga membangun kesadaran bersama unsur pentahelix dalam pertobatan ekologis

KDM dan Doni Monardo mengajak bangsa ini kembali pada maqam kesadaran: alam bukan benda mati, melainkan makhluk hidup yang memiliki hak untuk dijaga, adalah kesadaran tentang tauhid ekologis—bahwa alam dan manusia berada dalam satu simpul keesaan ciptaan Tuhan Yang Maha Kasih.

Pemimpin semacam ini bukan hanya pengelola ruang, tetapi sesungguhnya musafir spiritual yang sedang menuntun umatnya kembali ke “jalan pulang”. Jalan pulang kepada fitrah: bahwa manusia adalah khalifah, bukan penguasa mutlak; penjaga, bukan perusak alam.

Pesan sufistik mengingatkan kita  “Jangan mencari Tuhan di langit yang jauh, Ia bersemayam pada getaran semesta dan degup bumi yang kau injak.” Maka ketika KDM mengutip, merujuk, dan merawat nilai-nilai Sunda dalam kepemimpinannya, sesungguhnya ia sedang menapaki jalan kepemimpinan ekologis.

Tri Tangtu: Fondasi Kepemimpinan Ekologis

Menurut penelusuran akademisi dan budayawan Hawe Setiawan dalam buku ‘Sunda Sambil Lalu’ (2025) konsepsi Tritangtu adalah Rama, Resi, Ratu. Rama, menurut Hawe adalah semacam pihak yang bisa menyampaikan aspirasi rakyat kepada Prabu atau Raja.

Selanjutnya adalah Resi, yaitu orang yang memutuskan segala sesuatu bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat dengan pertimbangan agama. Dalam pola Tritangtu Ratu adalah pemegang tampuk kepemimpinan dalam pemerintahan atau eksekutif biasanya disebut Sang Prabu

Dalam kosmologi Sunda, Tri Tangtu di Buana bukan sekadar pembagian peran, melainkan harmoni kosmik yang menata kehidupan. Rama sebagai penjaga moral dan kebijaksanaan, Resi sebagai penjaga ilmu dan nilai, serta Ratu sebagai pemegang arah dan keputusan.

Tiga unsur ini bukan berdiri hierarkis, tetapi melingkar dalam satu tarian kesadaran untuk saling menguatkan, saling mengingatkan, saling menyeimbangkan. Seperti alam yang terdiri dari air, tanah, dan udara, Tri Tangtu adalah nafas kepemimpinan yang membuat peradaban tetap hidup dan tidak kehilangan ruhnya.

Dalam konteks modern, Tri Tangtu menemukan bentuk barunya: Pemerintah sebagai Ratu, Akademisi dan Tokoh Agama sebagai Resi, serta masyarakat dan komunitas sebagai Rama. Namun ketika salah satu terlalu dominan dan yang lain dibungkam, maka yang lahir bukan kepemimpinan, melainkan dominasi merusak alam.

Dominasi dalam sejarah peradaban manusia, selalu berujung pada kerusakan,  terutama kerusakan ekologis. Seperti yang diingatkan Fritjof Capra, “krisis ekologi modern berakar dari cara berpikir yang memisahkan manusia dari jejaring kehidupan semesta” (The Web of Life, 1997).

Dalam perspektif sufistik, Tri Tangtu  adalah refleksi  perjalanan batin manusia: antara akal, qalbu, dan tindakan. Resi adalah akal yang menerangi, Rama adalah qalbu yang membimbing, dan Ratu adalah amal yang mewujud. Kala ketiganya selaras, lahirlah kepemimpinan yang tidak hanya mengatur, tetapi saling menghidupkan.

Dalam terminologi spiritual Islam, sejalan dengan konsep khalifah fil ardh—manusia sebagai penjaga bumi yang diberi amanah, bukan sebagai pemilik mutlak. Sebagaimana dikatakan M. Quraish Shihab, tugas khalifah adalah memelihara, bukan menguasai alam semaunya (Membumikan Al-Qur’an, 1992).

Tri Tangtu juga sejalan dengan gagasan ekoteologi, yang menempatkan hubungan manusia–alam sebagai relasi moral dan spiritual. Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ (2015) menyatakan bahwa “krisis lingkungan adalah krisis hubungan: antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam”

Inilah saatnya di mana Rama, Resi, dan Ratu harus kembali bertaut—bukan saling menegasikan, tetapi saling meneguhkan. Sebab hanya dengan keseimbangan itulah kepemimpinan ekologis mewujud dalam strategi pembangunan, sebagai jalan pulang ke harmoni semesta.

Pada akhirnya, pemimpin ekologis Sunda adalah pemimpin yang tidak hanya mengatur manusia, tetapi merawat bumi sebagai tubuh rohaninya sendiri. Ia memahami bahwa merusak hutan berarti merobek sajadah semesta, dan meracuni sungai berarti mengotori cermin Ilahi.

Epilog

Kepemimpinan ekologis tidak boleh berhenti pada figur. Setiap dari kita sesungguhnya memikul tugas sejarah yang sama: memaknai kembali jati diri sebagai urang Sunda, yang secara fungsional dan historis adalah pemimpin ekologi.

Urang Sunda hari ini baik sunda pituin dan mukimin insan tinggal di tatar Sunda, bukan hanya mewarisi bahasa dan adat, tetapi mereka yang mampu menghidupkan nilai silih asih, silih asah, silih asuh dalam relasi dengan alam tempat bumi dipijak.

Menjadi pemimpin ekologis tidak selalu berarti memimpin ribuan orang, cukup, diawali memimpin diri sendiri, mengarahkan keluarga, membangun kesadaran dari rumah, dari ruang paling kecil yang kita miliki ke lingkungan yang lebih luas.

Sebab dari rumah yang hemat energi, dapur yang zero waste, kebiasaan memungut sampah, hingga cara kita mengajarkan anak mencintai sungai dan tanah—di situlah kepemimpinan ekologis bermula. Ia lahir bukan dari panggung seremonial, melainkan dari laku hidup sehari-hari yang sederhana namun konsisten

Disinilah urang Sunda menemukan kembali makna sejatinya, bukan hanya pewaris tanah Pasundan, tetapi penjaga kehidupan yang beradab dan berkelanjutan. Sunda Mulya bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan visi kultural yang hidup, yang berpijak pada nilai silih asih, silih asah, silih asuh dalam bingkai NKRI.

Panggilan jiwa untuk merawat tanah air sebagai amanah bersama, menjadikan kearifan lokal sebagai kekuatan moral dan sosial dalam membangun Indonesia yang lestari, adil, dan bermartabat di tengah tantangan kerusakan ekologis nasional dan global.

Sebab dari rumah yang hemat air, dapur yang zero waste, kebiasaan memungut sampah, hingga cara kita mengajarkan anak mencintai sungai dan tanah—di situlah kepemimpinan ekologis bermula. Di situlah urang Sunda menemukan kembali makna sejatinya: bukan hanya pewaris tanah Pasundan, tetapi penjaga kehidupan yang beradab dan berkelanjutan. Sunda Mulya dalam bingkai NKRI


Penulis : Dr. Eki Baihaki, M.Si
Dosen Pasca Sarjana Unpas – anggota TKPSDA WS Citarum ( Tim Kordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air ) mewakili Akademisi dan pegiat Citarum Institute

Tulisan Terkait

Sumpah Pemuda dan Semangat “Layeut jeung Dulur Sanagri”
Blog

Sumpah Pemuda dan Semangat “Layeut jeung Dulur Sanagri”

Oktober 28, 2025
Smart Garden, Ruang Publik yang Bisa Jadi Peluang Usaha dan Distribusi Makanan Sehat
Blog

Smart Garden, Ruang Publik yang Bisa Jadi Peluang Usaha dan Distribusi Makanan Sehat

Oktober 9, 2024
Next Post
Perhumas BPC Bandung Gelar Webinar Sustainability in Financial Company: Mendorong Praktik ESG di Sektor Keuangan

Perhumas BPC Bandung Gelar Webinar Sustainability in Financial Company: Mendorong Praktik ESG di Sektor Keuangan

Discussion about this post

Terkini

Surat Terakhir Anak Malang Yang Mengguncang Kemanusiaan Kita

Surat Terakhir Anak Malang Yang Mengguncang Kemanusiaan Kita

Februari 5, 2026
Silaturahmi Walikota, Wakil dan Ketua DPRD Cimahi ke Smart Library Garden

Silaturahmi Walikota, Wakil dan Ketua DPRD Cimahi ke Smart Library Garden

Januari 25, 2026
Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Januari 19, 2026
Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka

Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka

Januari 13, 2026

Menyajikan berita dan artikel yang informatif, edukatif & kolaboratif

© 2025 DentangId

No Result
View All Result

© 2025 DentangId