• Beranda
  • Blog
  • Halaman Utama
  • Home
  • Home 1
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Home 6
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
No Result
View All Result
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
Home TPKSDA Citarum

Diskusi Ekologis Citarum Institute bersama Kodiklatad

Admin Dentang by Admin Dentang
Desember 4, 2025
in TPKSDA Citarum
Diskusi Ekologis Citarum Institute bersama Kodiklatad
78
VIEWS

Ada waktu yang kita rencanakan dengan agenda manusia, dan ada waktu yang Allah sendiri pertemukan, ketika takdir berjumpa tanpa kita duga. Diskusi ekologis Citarum Institute dan Kodiklatad, 3 Desember 2025 terlaksana pada hari yang sarat makna, meski tanpa perencanaan.

Lahir dari silaturahmi sederhana yang dimediasi Kolonel Hasto, namun tiba pada hari yang sarat makna—Tepat dua tahun wafatnya Letjen TNI Doni Monardo, 3 Desember 2023 sang penjaga hutan, sungai, dan inspirator ekologis bangsa.

Dalam pandangan sufistik, tidak ada yang kebetulan; setiap perjumpaan adalah isyarat, setiap waktu adalah pituduh. Dalam kearifan Sunda,  “Lamun cai geus nyawaan, pasti aya kahayang langit di jerona.” Ketika air telah bersuara, pasti ada kehendak langit yang sedang bekerja.

Diskusi ini menjelma seperti majelis hikmah di tepian mata air purba, ketika unsur pimpinan Kodiklatad dan akademisi Citarum Institute berhimpun untuk meneguhkan kembali amanah menjaga cai—air sebagai rahmat dan tanda kebesaran-Nya.

Dan serasa almarhum Doni Monardo ikut hadir membisikkan pesan spiritual, merawat sungai bukan hanya tugas ekologis, tetapi ibadah menjaga rahmat kehidupan. Bahwa cai harus dijaga sebagaimana kita menjaga jiwa; karena dalam budaya Sunda dan dalam ayat-ayat Tuhan, air adalah  amanah.

Hadir Letjen TNI Dr. Mohamad Hasan, Dankodiklatad yang memikul mandat Kasad untuk mengelola hulu Sungai Citarum, memulihkan sumber hidup yang dalam kearifan Sunda disebut sebagai “cai nu jadi nyawa.” Tugas itu seakan menggemakan firman Allah, “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup” (QS. Al-Anbiya:30).

Bersama beliau hadir Brigjen TNI Saiful Rizal, Dirum Kodiklatad, dan Kol. Arh GTH. Hasto Respatyo, S.T., M.Si., yang selama ini menghadirkan disiplin militer sebagai laku ekologis untuk merawat Sungai Citarum sejak beliau jadi Aster Kodam 3 Siliwangi, dekat dan akrab dengan pegiat lingkungan dari berbagai unsur bangsa.

Dari Citarum Institute hadir Dr. Eki Baihaki, M.Si., Dr. Dini Dewi Heniati, SH., MH., Dr. Riva Rahayu, M.Ud., dan Dr. Heri Erlangga, M.Pd.—para akademisi lintas disiplin ilmu dan lintas kampus yang telah menapaki jalan ilmu dengan napas kepedulian ekologis.

Akademisi  lintas kampus yang tergabung Citarum Institute,  adalah akademisi yang pernah tersentuh oleh virus ekologis yang ditanamkan almarhum Letjen TNI Doni Monardo—virus pemahaman,  kesadaran, keberanian, dan cinta tanah air dalam makna yang paling sunyi.

Virus itu bukan penyakit, melainkan ilham: kejernihan batin untuk melihat sungai bukan sebagai objek, tetapi sebagai makhluk Tuhan yang harus dirawat. Ia menyebar pelan-pelan, seperti embun yang menempel pada daun sebelum fajar, menyelinap ke ruang nurani dan menetap sebagai kompas moral.

Dari jiwa almarhum Doni Monardo, virus itu menjelma menjadi semangat ekologis yang kini terus mereka tebarkan dalam ruang akademik, riset, dan pengabdian—seperti angin lembut yang menyampaikan kabar kebaikan dari satu hati ke hati lainnya.

Dalam bahasa para sufi, ketika sebuah nilai telah masuk ke dalam jiwa, ia menjadi nafasy, napas yang terus menghidupkan perjalanan seseorang. Akademisi Citarum Institute akan bergerak dengan napas ekologis yang sama—memandang air sebagai rahmah, tanah sebagai amanah, dan pemulihan Citarum sebagai suluk, jalan panjang menuju keutuhan hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

Para akademisi dan pegiat lingkungan hadir bukan sekadar representasi institusi, melainkan laku spiritual ekologis: menjaga bumi sebagai bagian dari ibadah, dan merawat Citarum sebagai bagian dari menjaga hidup. Inilah makna habbulum minal ‘alam—tali kasih antara manusia dan alam yang  sering digemakan almarhum.

Sebuah ajaran yang sederhana namun dalam, bahwa manusia tidak hanya dituntut berhubungan baik dengan Tuhan dan sesamanya, tetapi juga dengan air, tanah, hutan, dan seluruh ciptaan yang menjadi saksi keberadaan kita.

Citarum Institute dan Kodiklatad memikul semangat itu, agar nyala tidak padam , untuk  ditiupkan ke seluruh sanubari anak bangsa. Di tengah masifnya kerokan alam oleh kerakusan manusia—perbukitan yang dikuliti, sungai yang dicemari, tanah yang diperlakukan tanpa adab. Maka merawat alam bukan lagi pilihan, tetapi kewajiban  spiritual.

Perjuangan ekologis hakekatnya adalah zikir panjang; bahwa setiap upaya memulihkan sungai adalah doa, setiap pohon yang ditanam adalah tasbih, dan setiap perilaku menjaga air adalah wujud syukur atas kehidupan yang diamanahkan.

Spirit  ekologis harus ditulurakan, diviralkan dan terus digemakan, agar bangsa ini kembali ingat bahwa bumi bukan warisan, melainkan titipan yang harus dipulangkan dalam keadaan lebih baik, termasuk bagi anak, cucu dan cicit kita kelak agar dapat hidup layak.

Gema  qurani bahwa “dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” kebenaran yang bukan hanya teologis, air adalah fondasi kehidupan seluruh makhluk. Pesan ini menemukan pantulan paling sunyi namun paling jelas di Citarum, sungai panjang yang menyimpan denyut kehidupan jutaan manusia di Jawa Barat.

Dalam Islam, air adalah rahmah yang harus dijaga kesuciannya. Dalam kearifan Sunda, cai dihormati sebagai napas semesta: cai jadi nyawa, nyawa jadi kahirupan. Ketika dua pandangan ini bertemu, kita disadarkan bahwa memulihkan Citarum bukan sekadar proyek lingkungan, tetapi laku spiritual

Diskusi ekologis, bukan semata ruang bertukar gagasan, tetapi sebuah dzikir ekologis, ketika militer dan perguruan tinggi bersujud dalam ikhtiar: menjaga air sebagai amanah langit dan tanah, memulihkan Citarum sebagai tugas lahir sekaligus tugas batin.

Di sinilah local wisdom Sunda, ajaran Qurani, dan etos keprajuritan bertemu dalam satu kesadaran suci: bahwa merawat hulu sungai berarti merawat denyut kehidupan, dan menjaga cai adalah menjaga pesan Tuhan yang dititipkan kepada manusia sebagai khalifah di bumi.

Almarhum Doni Monardo hidup dengan satu kesadaran utama, bahwa manusia memiliki tiga hubungan suci, dengan Tuhan dan sesama manusia. Namun almarhum tekankan dalam pikiran dan tindakan kepemimpinanya kosep  ḥablum minal ‘ālam, hubungan manusia dengan alam semesta.

Hubungan yang ketiga inilah yang kini paling terluka. Dan sungai, hutan, tanah, dan udara menjadi saksi retaknya tali amanah itu.  Padahal manusia adalah Khalifah yang bukan sekedar penguasa, tetapi penjaga, penata, pelestari. Inilah spirit ekologis yang diperjuangkan almarhum   sepanjang hidupnya.

Citarum Institute mendukung mandat besar Kodiklatad untuk menjaga kawasan hulu Citarum, terutama Cisanti—mata air yang menjadi saksi sejak awal peradaban sungai ini. Di tempat inilah, konsep ḥablum minal ‘ālam menemukan bentuk paling nyata: hubungan yang terjaga, air yang dihormati, dan hulu yang dirawat sebagai amanah.

Cisanti kini bergerak menuju empat ciri bumi yang hidup kembali:
Pulih – Produktif – Edukatif – Berkelanjutan, sebagaimana firman-Nya:
Sungai mengajarkan adab. Bahwa peradaban dimulai dari bagaimana kita memperlakukan sumber airnya. Bahwa spiritualitas ekologis bukan konsep, tetapi tindakan sehari-hari.

Dalam pertemuan ini pula, terbit gagasan yang pernah diinisiasi bersama Citarum Institute untuk menghidupkan  Akademi Komunitas Citarum, wadah untuk menempa pemimpin ekologis yang memahami bahwa menjaga sungai adalah menjaga masa depan negeri.

Di sepanjang bantaran Citarum, ada 1445 kepala desa dan lurah yang perlu dibekali ekologi kebangsaan,  sebuah disiplin yang menyatukan iman, ilmu, dan tanggung jawab lingkungan dan negara. Kepala desa dan Lurah dapat menjadi pemimpin ekologis, sebagai penggerak Citarum kembali Harum dari limbah kotoran sampah.

Juga harus ditumbuhkan kesadaran bahwa kerusakan lingkungan adalah ancaman negara yang nyata, bukan konsep abtrak. Pemimpin ekologis harus hadir dari pusat hingga desa, dari markas militer hingga kampung,
dari ruang rapat hingga hulu Cisanti.

Hari ini, di waktu yang Allah pilihkan sendiri, kita bukan hanya berdiskusi. kita sedang menyambung  dan menyalakan kembali ḥablum minal ‘ālam yang hampir putus. Kita mengenang seorang penjaga bumi yang telah kembali, namun spiritnya terus mengalir seperti Citarum yang mencari muara. Alfatihah

Tulisan Terkait

Citarum Bersih Sampah: Doa yang Menggema dan Ujian bagi Pemimpin Ekologis
TPKSDA Citarum

Citarum Bersih Sampah: Doa yang Menggema dan Ujian bagi Pemimpin Ekologis

Desember 7, 2025
Banjir Bandang, Citarum dan Kepemimpinan Ekologis
TPKSDA Citarum

Banjir Bandang, Citarum dan Kepemimpinan Ekologis

Desember 1, 2025
Solusi Mendasar Atasi Sampah Citarum
TPKSDA Citarum

Solusi Mendasar Atasi Sampah Citarum

Februari 13, 2025
Next Post
Citarum Bersih Sampah: Doa yang Menggema dan Ujian bagi Pemimpin Ekologis

Citarum Bersih Sampah: Doa yang Menggema dan Ujian bagi Pemimpin Ekologis

Discussion about this post

Terkini

Silaturahmi Walikota, Wakil dan Ketua DPRD Cimahi ke Smart Library Garden

Silaturahmi Walikota, Wakil dan Ketua DPRD Cimahi ke Smart Library Garden

Januari 25, 2026
Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Januari 19, 2026
Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka

Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka

Januari 13, 2026
Satgas Percepatan Rehabilitasi & Rekonstruksi Pascabencana Sumatera bisa Menjadi Model Kolaborasi Pentaheliks

Satgas Percepatan Rehabilitasi & Rekonstruksi Pascabencana Sumatera bisa Menjadi Model Kolaborasi Pentaheliks

Januari 11, 2026

Menyajikan berita dan artikel yang informatif, edukatif & kolaboratif

© 2025 DentangId

No Result
View All Result

© 2025 DentangId