Bupati Ngada, Raymundus Bena, mengungkapkan hasil temuan tim lapangan atas wafatnya Yohanes Bastian Roja (10), seorang siswa sekolah dasar yang memilih gantung diri setelah permintaannya membeli buku dan pena tak dikabulkan sang ibu karena ketiadaan uang.
Fakta ini sederhana, nyaris sepele di mata kebijakan, namun mematikan bagi seorang anak. Ia berpulang bukan karena keinginan berlebihan, melainkan karena kebutuhan paling dasar untuk belajar dan merasa diperhatikan—di tengah negara dan pemerintah yang belum mampu memastikan tidak satu pun anak didera oleh kemiskinan.
Peristiwa memilukan di Ngada, Nusa Tenggara Timuryang ditinggalkan bersama sepucuk surat tulisan tangan berbahasa Bajawa adalah jerit sunyi yang mengguncang nurani kemanusiaan kita semua
Dari kertas sederhana itu mengalir kekecewaan yang tak sempat tertampung, serta salam perpisahan yang lirih dan penuh luka, ditujukan kepada seorang ibu yang mencintai dalam keterbatasan yang tak pernah ia pilih.
Di balik surat itu, terselip pertanyaan besar tentang kehadiran negara yang seharusnya lebih awal mencegah, bukan sekadar mencatat setelah tragedi terjadi, termasuk peran kita semua untuk memiliki kesadaran antisipatif
Seorang anak, yang seharusnya masih bermain di bawah terang hari dan bertumbuh dalam pelukan kasih, memilih pulang lebih awal ke keabadian. Tragedi ini menyingkap kenyataan pahit: ketika sistem perlindungan sosial rapuh, ketika kebijakan publik yang belum menjangkau dapur-dapur sunyi keluarga miskin, dan ketika pencegahan gagal dijalankan, beban itu jatuh ke pundak anak-anak.
Karena itu, sebelum regulasi disempurnakan dan anggaran diperbanyak, ada ikhtiar paling dasar yang tak boleh absen: mendengar tanpa menghakimi, hadir tanpa menuntut, dan menyediakan ruang aman agar seorang anak berani berkata, “Aku lelah,” tanpa takut disalahkan.
Ini bukan sekadar kabar duka, melainkan cermin retak yang memantulkan rapuhnya kesehatan mental anak-anak kita. Di balik angka dan peristiwa, tersingkap kenyataan bahwa ruang batin mereka kerap sunyi—miskin dialog yang hangat, aman, dan penuh empati.
Ketika komunikasi di rumah, sekolah, dan lingkungan melemah, anak-anak kehilangan tempat bersandar; kecemasan tumbuh, kesepian mengeras, dan harapan pun perlahan meredup—hingga pada titik paling sunyi, muncul bisikan keputusasaan yang mengarah pada keinginan mengakhiri hidup.
Kenyataan ini ditegaskan oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, yang mengungkapkan bahwa sekitar 28 juta dari 287 juta penduduk Indonesia—sekitar 1 dari 10 orang—berpotensi mengalami gangguan kesehatan jiwa, dari depresi hingga skizofrenia.
Menkes menekankan urgensi pemerataan layanan kesehatan jiwa, penguatan skrining dini di Puskesmas, serta fokus pada upaya promotif-preventif. Terutama bagi anak dan remaja yang semakin rentan terhadap kecemasan akibat paparan gawai, langkah-langkah ini menjadi ikhtiar bersama agar kesehatan mental dirawat sejak awal, sebelum sunyi berubah menjadi luka.

Menjaga jiwa anak bukanlah tugas satu tangan. Ia adalah amanah kolektif yang melekat pada kita semua. Tanggung jawab ini tidak berhenti pada pemerintah dan kebijakan publik semata, tetapi juga berada di pundak orang tua, pendidik, sekolah, komunitas, dunia usaha, media, dan setiap insan yang masih mengaku manusia.
Sebab dalam gelap yang paling pekat, satu lilin kecil yang dinyalakan dengan empati dan kepedulian jauh lebih bermakna daripada seribu sumpah serapah pada kegelapan yang tidak menghadirkan solusi.
Tragedi ini adalah panggilan nurani yang mengetuk kesadaran kita, satu per satu. Ia mengingatkan bahwa sebelum anak-anak itu melangkah terlalu jauh dalam kesepian, kitalah yang seharusnya lebih dahulu mendekat.
Dari rumah yang hangat, sekolah yang ramah, komunitas yang peduli, ruang kerja yang manusiawi, hingga ruang redaksi yang beretika, selalu ada ruang untuk menyalakan cahaya-cahaya kecil harapan. Cahaya yang dinyalakan bersama akan selalu lebih terang daripada kesedihan yang diratapi sendiri.
Karena itu, peran antisipatif lintas sektor bukan pilihan, melainkan kewajiban dasar yang harus dipenuhi bersama. Pemerintah dituntut menjadi penjaga sistem dengan menghadirkan kebijakan yang menyentuh jiwa, layanan konseling yang membumi hingga tingkat paling dekat dengan warga, serta perlindungan anak yang hidup di tengah masyarakat, bukan sekadar tertulis di atas kertas.
Keluarga adalah mihrab pertama, tempat anak belajar dicintai tanpa syarat, didengar tanpa penghakiman, dan dipahami tanpa harus menjelaskan terlalu panjang. Komunitas dan tokoh masyarakat menjadi pagar sosial yang memastikan tak ada anak tercecer sendirian dalam keramaian.
Sekolah harus kembali menjadi taman jiwa, bukan sekadar ladang angka dan nilai, melainkan ruang aman dari perundungan dan luka batin. Dunia usaha berkontribusi pada keberlanjutan, karena kepedulian sosial adalah investasi masa depan. Media pun memikul tanggung jawab moral untuk menjadi lentera kata, menyampaikan empati, bukan sensasi; harapan, bukan ketakutan.
Di Cimahi, tragedi ini seharusnya menjadi ikrar bersama: jangan sampai terjadi. Sebagai kota yang tengah menapaki cita-cita peradaban dan ramah anak, Cimahi tidak boleh menunggu luka untuk belajar. Ia harus antisipatif sejak dini, menguatkan keluarga, sekolah, dan komunitas agar tak ada jiwa kecil yang merasa sendirian di tengah kota.
Kampung Cendekia, program kolaboratif ICMI orda Cimahi menemukan maknanya, bukan sekadar sebagai tempat atau program, melainkan sebagai ruang silaturahmi jiwa. Sebuah ekosistem kepedulian, tempat orang tua, pendidik, tokoh agama, tenaga kesehatan, pemuda, media, dan dunia usaha duduk sejajar, saling mendengar, saling belajar, dan saling menjaga nurani kemanusiaan.
Melalui dialog keluarga, kelas parenting, literasi kesehatan mental, pendampingan anak dan remaja, serta penguatan nilai agama dan kearifan lokal, Kampung Cendekia dapat menjadi lilin kecil yang dinyalakan bersama, menghadirkan Cimahi kota Peradaban, kota yang menyayangi dan memberi ruang berkembang anak menjadi tunas bangsa yang tangguh
Pada akhirnya, ini adalah ajakan sunyi namun tegas untuk bergerak bersama, menyalakan cahaya dari Cimahi, agar tak ada lagi anak yang merasa tak didengar, tak ada lagi jiwa kecil yang berpulang karena merasa sendiri. Karena mencegah satu tragedi saja adalah kemenangan besar bagi kemanusiaan, dan mungkin, doa yang diam-diam dikabulkan
Pada akhirnya, setiap anak adalah titipan Tuhan yang dititipkan kepada nurani kita bersama. Ketika satu jiwa kecil memilih pergi karena merasa tak cukup didengar, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya sistem dan kebijakan, tetapi nurani kemanusiaan kita sendiri !
Semoga peristiwa ini tidak sekadar singgah sebagai kabar duka yang lalu dilupakan, tetapi menjelma menjadi kesadaran yang menetap di hati kita. Dari rumah-rumah kecil hingga kota yang kita cintai, dari Cimahi hingga penjuru negeri, semoga kita belajar kembali untuk hadir dengan penuh kasih, mendengar dengan rendah hati, dan memeluk dengan keikhlasan.
Marilah kita nyalakan cahaya kasih bersama sama, agar anak-anak Cimahi dan Indonesia tumbuh dalam harapan, bukan dalam sunyi; dalam dekapan cinta, bukan dalam kesepian. Dan semoga tak ada lagi anak manis seperti Yohanes Bastian Roja yang memilih pergi terlalu cepat, karena merasa sendiri di dunia yang seharusnya menjaganya.
Dr. Eki Baihaki, M.Si – Dosen Pasca Sarjana UNPAS – Sekretaris ICMI orda Cimahi dan Pakar Jatidiri.App








Discussion about this post