• Beranda
  • Blog
  • Halaman Utama
  • Home
  • Home 1
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Home 6
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
No Result
View All Result
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
Home TPKSDA Citarum

Banjir Bandang, Citarum dan Kepemimpinan Ekologis

Admin Dentang by Admin Dentang
Desember 1, 2025
in TPKSDA Citarum
Banjir Bandang, Citarum dan Kepemimpinan Ekologis
17
VIEWS

Banjir bandang yang melanda Sumatera bukanlah semata kemurkaan langit atau kebetulan meteorologis; ia adalah cermin retak dari pembangunan yang buta ekologis. Di balik dalih “cuaca ekstrem” dan “siklon langka”, sungai-sungai yang dulu tenang kini mengamuk seperti doa-doa bumi yang lama tak didengar.

Air yang meluap membawa pesan getir tentang hutan yang ditebang terlalu cepat, tanah yang diperas tanpa jeda, dan tata ruang yang dipaksakan tanpa hormat pada alurnya. Tragedi ini bukan hujan yang salah turun, tetapi jejak panjang kebijakan publik yang meminggirkan keseimbangan, hingga alam akhirnya menagih janji yang pernah di khianati.

Sungai Citarum adalah cermin besar yang memantulkan kualitas kepemimpinan kita. Dari sunyi Cisanti hingga riuh hilir Karawang, sungai ini membawa pesan yang sering kita abaikan: bahwa kerusakan ekologis bukan semata persoalan teknis, melainkan tanda gagalnya kepemimpinan yang menempatkan alam sebagai amanah.

Dalam hikmah sufistik, “Alam adalah kitab yang terbuka; siapa yang tak mampu membacanya, akan tersesat.” Ketidakmampuan kita membaca isyarat alam Citarum, airnya yang masih keruh, sampah menumpuk, sedimentasi meningkat, dan banjir berulang, hakekatnya adalah bentuk lemahnya kepemimpinan ekologis.

Krisis kepemimpinan ekologis muncul ketika pemimpin gagal memahami pesan alam,  hutan dibiarkan gundul, resapan air hilang, dan disiplin sosial lemah, maka bencana hanyalah konsekuensi logis. Ini bukan sekadar salah warga atau salah industri, tetapi salah arah kepemimpinan yang lebih sibuk mengelola dampak ketimbang mengatasi akar, memaknai konservasi Citarum hanya sekedar proyek.

Diskusi “Ekologis” Citarum Institute bersama Sesjen Wanntanas Letjen TNI  Doni Monardo

Pemimpin ekologis, sejatinya harus hadir dari puncak tertinggi negara hingga ruang terkecil di rumah. Dari istana hingga bale desa, dari gedung pemerintahan hingga saung sederhana. Pemimpin yang memandang alam sebagai amanah, bukan alat. “Setiap yang kau pimpin adalah bagian dari dirimu.” Maka bumi, sungai, dan hutan adalah bagian dari amanah kepemimpinan yang harus dijaga dengan cinta.

Di tingkat negara, pemimpin ekologis menata arah bangsa seperti menata aliran sungai: jernih, dan setia pada keseimbangan. Di tingkat daerah, hingga RT_RW hadir sebagai penjaga harmoni, memastikan pembangunan tidak memutus napas tanah dan tidak menutup mata air. Menghidupkan gotong royong, dan menuntun warganya untuk menyadari bahwa “air yang jernih lahir dari hati yang jernih.”

Dan di keluarga, kepemimpinan ekologis menemukan akarnya. Ayah yang mengajarkan anaknya untuk tidak membuang sampah ke sungai; ibu yang menjaga dapur tanpa menambah beban bumi; keluarga yang memandang air sebagai berkah yang harus disyukuri. Di sinilah paradigma ekologis tumbuh, bukan melalui pidato, melainkan melalui teladan.

Sebab dalam hikmah sufistik: “Pemimpin sejati bukan hanya mengatur manusia, tetapi menyembuhkan alam yang terluka.” Bila setiap keputusan, dari yang agung hingga yang sederhana, dilandasi kesadaran ekologis, maka Sungai Citarum dan seluruh kehidupan yang bergantung padanya akan kembali harum, tenang, dan diberkahi.

Diskusi Ekologis Citarum di Kodiklatad

Pemimpin ekologis sejati hadir dengan tiga kesadaran. Pertama harus memiliki kesadaran spiritual, “ngelakoni alam kalayan hormat”—hidup selaras dengan alam sebagai titipan Gusti, bukan milik untuk dieksploitasi. Leluhur telah berpesan, “leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak”; kerusakan sungai selalu bermula dari kerusakan batin manusia yang lalai untuk menjaga amanah.

Seyyed Hossein Nasr pernah mengingatkan, “Krisis ekologi adalah krisis spiritual manusia,” dari tepian Citarum kita melihat kebenaran itu terpancar dengan jelas. Krisis sungai ini sesungguhnya bukan hanya persoalan teknis atau kebijakan, melainkan krisis jiwa kepemimpinan yang lupa bahwa air memiliki kesucian, tanah memiliki martabat, dan kehidupan memiliki roh yang harus dijaga.

Kesadaran kedua adalah kesadaran teknokratis, karena “rasa jeung nalar kudu sajalan”. Cinta kepada sungai harus disertai data, riset, dan kebijakan yang presisi. Tanpa ilmu, pemulihan hanya menjadi doa tanpa usaha; tanpa perencanaan, Citarum hanya menjadi cerita harapan tanpa perubahan.

Kesadaran ketiga adalah kesadaran sosial, sebab sungai tak akan pulih tanpa perubahan perilaku massal. Kearifan “silih asah, silih asih, silih asuh” mengingatkan bahwa perawatan Citarum adalah kerja kolektif, untuk mengasah pengetahuan, menyayangi alam, dan saling menjaga kebiasaan bersih.

Citarum bukan sekadar sungai, tetapi cermin peradaban. Bila sungai keruh, itu karena keputusan-keputusan kita pun keruh. Bila sungai sesak oleh sampah, itu karena paradigma kita sesak oleh kerakusan materialisme dan minim spiritulisme.

Kondisi awal Citarum saat masih jadi “tempat sampah raksasa”

Pemimpin ekologis adalah pemimpin yang memahami bahwa hulu adalah jiwa sungai. Ia melihat Cisanti bukan sebagai lokasi program semata, melainkan sebagai ruang sakral yang menjaga keseimbangan air bagi jutaan manusia. Ia memimpin dengan kesadaran bahwa memulihkan hulu adalah melindungi masa depan bangsa.

Ciri-ciri  Pemimpin Ekologis

Pertama, pemimpin yang visioner, yang melihat Citarum bukan dalam hitungan masa jabatan, tetapi dalam tarikan waktu generasi.. “hirup lain pikeun ayeuna hungkul” hidup bukan hanya untuk hari ini saja. Memandang sungai sebagai warisan panjang yang harus dijaga untuk cucu-cicit yang belum lahir

Kedua, memiliki cara pandang sistemik. Ia memahami bahwa sampah bukan hanya soal kebersihan, tetapi soal budaya; deforestasi bukan hanya soal pohon, tetapi soal ekonomi; limbah industri bukan hanya soal pabrik, tetapi soal tata kelola dan keberanian politik. Berani menghubungkan segala persoalan menjadi satu jalinan utuh, seperti aliran sungai yang tak pernah terputus dari mata airnya.

Ketiga, sosok yang berani dan konsisten. Ia tahu bahwa menjaga sungai berarti berhadapan dengan kepentingan industri, gesekan politik, dan budaya lama yang sulit diubah. “kudu wani ngajaga nu luyu” harus berani menjaga yang benar. Menegakkan disiplin lingkungan tanpa ragu, karena ia memahami bahwa keberlanjutan tidak mungkin lahir dari kompromi terhadap perilaku yang merusak.

Keempat, pemimpin ekologis berbasis sains dan data. Ia tidak menebak-nebak kondisi sungai, tetapi membaca angka kualitas air, debit hulu, tingkat sedimentasi, dan pola perilaku manusia. Pemimpin ekologis menjadikan ilmu sebagai cahaya yang menuntun langkah, sebagaimana pesan bijak: “rasa tanpa nalar buta, nalar tanpa rasa hampa.”

Kelima, pemimpin ekologis adalah pemimpin kolaboratif, yang memahami bahwa memulihkan Citarum bukan tugas satu lembaga, melainkan tugas seluruh unsur pentahelix : pemerintah, TNI, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan media. Ia mampu menyatukan kekuatan yang beragam menjadi satu gerakan besar. “sauyunan jadi daya, saikhlasna jadi berkah.”

Keenam, pemimpin ekologis memiliki etika ekologis, yakni keyakinan bahwa air adalah amanah suci, bukan barang dagangan. Ia memandang sungai sebagai makhluk yang harus dihormati, bukan  tempat menampung sampah dan limbah. Ia menempatkan sungai bukan di pinggir kebijakan, tetapi di pusat peradaban yang hendak dibangun.

Pemimpin ekologis dapat terbit dari mana saja: dari seorang Gubernur yang menempatkan alam sebagai panglima kebijakannya, dari Komandan TNI yang menggerakkan disiplin lapangan laksana zikir yang menegakkan tatanan, dari kepala desa yang menuntun warganya mengelola sampah di tempat seperti merawat kesucian halaman rumah.

Ia bisa lahir dari akademisi yang menyalakan cahaya ilmu bagai pelita batin, dari komunitas yang menjaga sungai dengan ketulusan seolah merawat nadi kehidupan, dari pengusaha yang menahan kerakusan demi keberkahan, hingga media yang menebarkan literasi lingkungan seperti doa yang mengingatkan manusia pada amanah penciptaan.

Sebab kepemimpinan ekologis bukan hanya soal jabatan, melainkan kesadaran sufistik bahwa bumi adalah ayat, dan menjaganya adalah ibadah yang tak pernah selesai dan menjadi laku kesaharian.

Citarum Memanggil, Siapa yang Menjawab?

Citarum sedang memanggil kita, bukan dengan suara, tetapi dengan tanda. Pemimpin ekologis adalah mereka yang mendengar panggilan  untuk memulihkan hulu, menata perilaku, meluruskan paradigma, dan mengembalikan sakralitas relasi manusia dengan alam.

Sebab sebagaimana para sufi berkata, “Bumi adalah amanah, bukan warisan; ia titipan yang harus dikembalikan lebih baik dari saat diterima.”
Sungai Citarum, adalah sungai yang menghidupi lebih dari sekitar 15 juta jiwa, menunggu pemimpin yang mampu mewujudkan amanah itu dengan kecerdasan, keberanian, dan cinta.

Masih adakah pemimpin ekologis hari ini? mereka yang memandang bumi bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai amanah suci?. Pemimpin yang menjadi penjaga air yang mencari jalannya, menjadi sahabat tanah yang digerogoti rakus, menjadi suara hutan yang kian lirih ditebang

Jika langit belum menurunkannya, maka jadikanlah diri kita sendiri penanggung amanah bumi. Sebab masa depan anak, cucu, dan cicit tidak terbit dari pidato, tetapi dari keberanian kita menjaga air, tanah, dan hutan sejak sekarang.

Di tengah sunyi kepemimpinan ekologis, biarlah kita menjadi mata air kecil yang kelak mengalir menjadi sungai penentu arah peradaban. Sebab kepemimpinan ekologis bukan gelar dan pangkat, tetapi kesediaan untuk memikirkan anak, cucu, dan cicit yang belum lahir, seakan duduk di hadapan kita hari ini, mengingatkan kesadaran spiritual kita semua.

Tulisan ini didedikasikan kepada almarhum Letjen Doni Monardo, inisiator Citarum Harum yang menyalakan bara kesadaran merawat Citarum, dan kepada almarhum Prof. Eddy Jusuf, mantan Rektor UNPAS yang menaburkan benih ilmu dan kesadaran ekologis di hati banyak insan. Keduanya telah kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan, namun jejak mereka masih mengalir seperti doa yang menyusuri tepian sungai.

Dari tangan almarhum kita belajar bahwa merawat bumi adalah laku batin, bahwa menjaga Citarum bukan sekadar program, melainkan pengabdian yang menghubungkan manusia dengan amanah langit. Semoga ruh perjuangan mereka menjadi lentera bagi kita, agar spirit ekologis terus menyala—menuntun langkah kita menjaga bumi sebagai bagian dari zikir kehidupan yang tak pernah padam.


Dr. Eki Baihaki, M.Si, Dosen Pascasarjana UNPAS, Citarum Institute dan anggota Tim Kordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air  (TKPSDA WS Citarum) mewakili unsur Akademisi.

Tulisan Terkait

Citarum Bersih Sampah: Doa yang Menggema dan Ujian bagi Pemimpin Ekologis
TPKSDA Citarum

Citarum Bersih Sampah: Doa yang Menggema dan Ujian bagi Pemimpin Ekologis

Desember 7, 2025
Diskusi Ekologis Citarum Institute bersama Kodiklatad
TPKSDA Citarum

Diskusi Ekologis Citarum Institute bersama Kodiklatad

Desember 4, 2025
Solusi Mendasar Atasi Sampah Citarum
TPKSDA Citarum

Solusi Mendasar Atasi Sampah Citarum

Februari 13, 2025
Next Post
Diskusi Ekologis Citarum Institute bersama Kodiklatad

Diskusi Ekologis Citarum Institute bersama Kodiklatad

Discussion about this post

Terkini

Silaturahmi Walikota, Wakil dan Ketua DPRD Cimahi ke Smart Library Garden

Silaturahmi Walikota, Wakil dan Ketua DPRD Cimahi ke Smart Library Garden

Januari 25, 2026
Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Januari 19, 2026
Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka

Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka

Januari 13, 2026
Satgas Percepatan Rehabilitasi & Rekonstruksi Pascabencana Sumatera bisa Menjadi Model Kolaborasi Pentaheliks

Satgas Percepatan Rehabilitasi & Rekonstruksi Pascabencana Sumatera bisa Menjadi Model Kolaborasi Pentaheliks

Januari 11, 2026

Menyajikan berita dan artikel yang informatif, edukatif & kolaboratif

© 2025 DentangId

No Result
View All Result

© 2025 DentangId