Citarum bersih sampah sejatinya bukan sekadar mimpi ekologis, tetapi panggilan moral yang mengetuk nurani kita dan mengetuk pintu kekuasaan. Para pihak yang merasakan jeritan air yang kehilangan kejernihannya, dari lumpur yang memeluk sampah, dari anak-anak di tepian sungai yang terpapar sakit. Dalam sunyi yang panjang, Citarum sesungguhnya sedang berzikir—memanggil manusia untuk kembali amanah.
Di hadapan sungai Citarum, pemimpin tidak lagi bisa bersembunyi di balik jabatan. Dari pemimpin pusat hingga daerah, dari provinsi hingga kota dan desa, dari ruang rapat hingga dapur rumah tangga semua memikul tanggung jawab yang sama. Namun yang paling diuji adalah mereka yang memegang kewenangan mengelola dana rakyat, sebab di tangan merekalah kebijakan berubah menjadi masa depan atau justru petaka ekologis.

Kita telah terlalu lama menyaksikan tragedi yang berulang dalam wajah yang berbeda: ego sektoral yang masih Nampak dan ego sistem yang saling mengunci, dan program yang sering lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga air. Sungai tidak butuh pencitraan. Ia hanya butuh kebijakan yang berpihak pada ekologi yang meminta setiap kebijakan menjadi jalan pemulihan, bukan hanya catatan statistik dan seremonial.
Sesungguhnya kita memiliki sumber daya solusi di mana-mana: ilmu dan teknologi di kampus, kearifan di kampung-kampung, energi ketulusan komunitas yang menyala luar biasa, dan kekuatan regulasi di tangan negara. Tidak ada yang benar-benar kurang pada bangsa ini selain kurangnya keberanian dan ketulusan untuk mau berkolaborasi.
Dalam teori kolaborasi pentahelix, pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media adalah lima simpul cahaya, tetapi cahaya yang disimpan sendiri-sendiri hanya akan menjadi projektor kepentingan sektoral, bukan penerang jalan perubahan. Almarhum Doni Monardo, dalam salah satu diskusi mengingatkan “kita sudah bekerja, tapi sudahkah bersinergi ?”
Masalah terbesar kita bukan ketiadaan program, melainkan kurangnya keberanian dan niat baik untuk menundukkan ego kekuasaan. Kita sering melihat anggaran yang mengikuti arus kepentingan sektoral, bukan mengikuti alur kebutuhan ekologis yang paling berdampak besar. Regulasi lahir berlapis-lapis, tetapi air sungai tetap menanggung limbah; indikator kinerja naik, tetapi kualitas hidup di bantaran justru tertinggal.
Di titik ini, advokasi publik menjadi keharusan moral: untuk terus mengingatkan bahwa setiap dana rakyat yang tidak sungguh-sungguh bekerja menyelamatkan lingkungan adalah tanda absennya kepemimpinan ekologis di Sungai Citarum, meski banyak orang dan wajah telah merasa telah menjadi pemimpin. Kekuasaan tanpa tanggung jawab ekologis tidak lebih dari petugas administrasi, bukan pemegang amanah peradaban.
Sebab kepemimpinan sejati tidak diukur dari panjangnya daftar program atau tebalnya laporan , melainkan dari keberanian memastikan bahwa kebijakan dan anggaran benar-benar berpihak pada kehidupan. Ketika sungai masih terluka, maka yang perlu ditinjau bukan hanya perilaku warga, tetapi terutama arah penggunaan kewenangan dan uang rakyat yang dititipkan kepada para pemegang kuasa.

Cahaya pentahelix hanya akan benar-benar menjadi terang bila pemerintah dan semua unsur bangsa mau membuka diri dan mau berkolaborasi, akademisi tetap kritis dan memberi saran solutif, dunia usaha siap bertanggung jawab merawat sungai, komunitas konsisten bergerak dilapangan, dan media tegak sebagai penjaga nurani publik.
Tanpa itu, kolaborasi hanya akan menjadi jargon rapat, bukan tenaga perubahan. Tetapi bila kelima simpul itu berani bertemu dalam ijtihad ekologis dan keberanian yang sama, maka bukan hanya sungai yang akan pulih—kepercayaan rakyat pada kekuasaan pun akan kembali menemukan maknanya.
Di jalan itulah Citarum Institute berihtiar menyalakan kembali kepemimpinan ekologis melalui “Akademisi Komunitas Citarum”, ikhtiar sunyi yang diwariskan almarhum Doni Monardo. Program prioritas adalah membangkitkan kesadaran lebih dari seribu dua ratus Kepala Desa dan Lurah di sepanjang tepian Sungai sebagai penggerak dan penjaga sampah untuk tidak megalir ke tepi Sungai Citarum
Gagasan, yang alhamdulilah mendapat tanggapan baik dari Letjen TNI Dr. Mohamad Hasan, Dankodiklatad untuk dibahas lebih lanjut. Serta support dari para sahabat pegiat lingkungan yang menyala nyala, akademisi yang siap terjun dan media untuk bersama sama mewujudkannya. Dan semoga para pihak terkait juga turut mendukung.
Sebab Citarum tidak akan sembuh hanya dari pidato dan seminar seminar, ia hanya akan pulih dari kerja sunyi yang terkait langsung dengan Solusi Citarum. Namun sehebat apa pun gerakan di akar rumput, ia akan rapuh bila kekuasaan di puncak tidak mendukung bahkan tidak tunduk pada etika ekologis.
Dalam pandangan sufistik, kekuasaan bukanlah hak istimewa, melainkan ujian kepemimpinan dan kepentingan. Setiap rupiah yang tak sampai pada pemulihan sungai, sejatinya sedang menjauhkan diri dari keberkahan. Disinilah pentingnya menyalakan Kepemimpinan Ekologis dan membangun komunitas ekologis yang organik melalui pelatihan dan edukasi
Dibutuhkan gerakan masyarakat yang hidup seperti zikir, menjaga setiap tepi sungai dari sampah domestik maupun industri. Gerakan yang lahir dari kesadaran, yang dimulai dari kepala rumah tangga di setiap tepi Sungai citarum, diperkuat ketua RT dan RW, ditegakkan kepala desa dan lurah, didukung komunitas, akademisi dan dunia bisnis yang diarahkan camat sebagai penjaga harmoni wilayah.
Dikawal Satgas Citarum dan penegak hukum, agar aturan bukan hanya tertulis, tetapi benar-benar melindungi air yang menjadi nafas kehidupan. Dan tidak membuang bukan karena takut, tapi karena kesadaran ekologis yang diperkuat Fatwa Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa Haram “Membuang sampah ke sungai, danau, dan laut”. Fatwa pada Munas MUI XI di Jakarta pada 22 November 2025
Dan 13 bupati dan wali kota, gubernur hingga presiden yang memegang amanat. Semuanya adalah pemimpin yang sedang diuji: apakah mereka sekadar pemegang jabatan, atau sungguh-sungguh mengemban amanah bumi. Karena sungai adalah cermin; bila ia kotor, reduplah kesadaran kita. Bila ia kembali jernih, itu tanda baik bahwa ada pemimpin ekologis yang menyala sebagai khalifah sang penjaga alam.
Citarum bersih sampah, pada akhirnya, bukan hanya tentang sampah. Ia adalah tentang cara kita memandang amanah. Apakah jabatan yang kita gunakan, hanya untuk memperpanjang daftar proyek, atau memperpanjang napas kehidupan? Atau warisan bagi anak, cucu dan cicit kita.
Meminjam ungkapan kang Gai Suharja, dosen Maranatha senior pegiat Citarum dibutuhkan “Manifesto”, atau pernyataan tegas pengarusutamaan ekologi publik. Bahwa sungai Citarum tidak bisa menunggu keseragaman niat, tetapi berharap ada kebijakan kuat yang berpihak pada ekologi dalam wujud komitmen bersama yang memastikan Citarum kembali harum
Jika Citarum hari ini masih menanggung luka, maka yang luka bukan hanya airnya,
tetapi juga kesadaran kita sebagai pemegang amanah. Dan jika suatu hari ia pulih,
itu bukan karena slogan, melainkan karena kepedulian kita semua dan kuasaan yang bersujud pada amanat bumi.
Citarum bersih sampah bukan sekadar doa yang menggema, tapi harus menjadi komitmen moral kita semua. Sebuah doa yang telah lama menggema dari aliran sungai di desa desa di tepi Sungai Citarum yang menunggu untuk dijawab oleh kita semua, utamanya pemegang amanah formal. Semoga Allah mudahkan !
Penulis, Dr. Eki Baihaki, M.Si,
Dosen Pascasarjana UNPAS, Ketua Citarum Institute dan anggota Tim Kordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Citarum wakil akademisi.









Discussion about this post