• Beranda
  • Blog
  • Halaman Utama
  • Home
  • Home 1
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Home 6
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
No Result
View All Result
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
Home Info Aktual

Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka

Admin Dentang by Admin Dentang
Januari 13, 2026
in Info Aktual
Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka
5
VIEWS

Presiden Prabowo memilih menginap pada malam pergantian tahun  di Tapanuli Selatan, lalu bergeser ke Aceh Tamiang kedua daerah terparah bencana yg melanda Sumatera. Tempat keputusan harus dipercepat dan harapan harus segera dipulihkan.

Sekaligus menjawab berbagai kritik dan kekecewaan masyarakat yang merasa belum ditangani secara baik bukan dengan bantahan kata, melainkan dengan kerja nyata yang terlihat, dirasakan, dan berdampak.

Di tengah pro dan kontra penetapan status darurat bencana nasional, perdebatan kerap terjebak pada istilah, prosedur, dan kalkulasi politik. Namun ketika Presiden memilih hadir langsung di lokasi bencana, berharap perdebatan menemukan jawaban  substantif.

Menginap di tanah bencana berarti merendahkan kuasa agar kemanusiaan ditinggikan; berarti menukar jarak dengan kedekatan, agenda dengan kebersamaan. Di negeri yang kerap riuh oleh tafsir dan prasangka, ada bahasa yang lebih jujur dari kata-kata yaitu : kehadiran.

Kehadiran adalah bahasa kebijakan yang hidup, melampaui dokumen, melampaui wacana. Diharapkan mampu menyatukan langkah kementerian, pemerintah daerah, TNI–Polri, relawan, dan masyarakat dalam satu irama kebersamaan yang solutif.

Esensi kehadiran seorang pemimpin tidak berhenti pada pencitraan sesaat atau gestur simbolik yang cepat menguap. Kehadiran yang sejati diuji oleh dampaknya memutus kebuntuan yang melahirkan keputusan strategis  menjawab kebutuhan paling mendesak.

Di lokasi bencana, kehadiran bukan sekadar berdiri di hadapan kamera, melainkan menyerap denyut masalah di lapangan, mendengar langsung keluhan, melihat celah koordinasi, dan menimbang ulang kebijakan agar berpihak pada mereka yang paling rentan.

Lebih dari itu, kehadiran yang bermakna adalah ketika tubuh pemimpin menjadi pintu masuk bagi kebijakan besar yang bekerja. Dari sana lahir percepatan bantuan, penguatan komando lintas sektor, dan arah pemulihan yang terukur.

Inilah kehadiran yang subtantif,  tidak menghilang bersama sorotan, tetapi berlanjut dalam program dan tata kelola yang berdampak. Sebab pada akhirnya, rakyat menunggu perubahan yang bisa dirasakan secara nyata.

Ketika seorang pemimpin tidur dekat dengan luka rakyatnya, sejatinya ia sedang meruntuhkan sekat kekuasaan; menanggalkan jarak di hadapan derita. Kepemimpinan menunjukan wajahnya yang paling manusiawi, menunaikan amanah dengan kerendahan hati.

Datang sekali bisa dibaca simbolik, namun datang berulang kali adalah komitmen. Pengulangan adalah zikir bukan pada lafaz, melainkan kesetiaan pada komitmen. Bahwa derita rakyat tidak diarsipkan sebagai angka, melainkan diakui sebagai luka bersama.

Di tengah kritik yang bergulir dengan cepat menilai dan gemar mencurigai, kehadiran semacam ini kerap disalahpahami. Namun ketulusan tak pernah menagih tepuk tangan; kerap memilih senyap, karena yang dicarinya bukan sorak, melainkan kebermaknaan menjadi pemimpin sejati.

Menginap di lokasi bencana adalah pelajaran empati yang tak bisa disingkat. Malam pengungsian mengajarkan apa yang tak tertulis di laporan: dingin yang merambat, cemas yang berulang, dan harap yang digantungkan pada esok.

Kehadiran negara di lokasi bencana adalah pengakuan martabat: bahwa warga tidak sendirian, bahwa duka mereka diakui. Amanah tanggung jawab yang dipikul, bukan dipamerkan adalah etika kepemimpinan yang jarang, namun sangat diperlukan.

Tentu, kehadiran tidak otomatis menyelesaikan segalanya. Ia bukan mukjizat. Namun ia membuka pintu bagi bab-bab berikutnya: koordinasi yang jujur, akuntabilitas yang nyata, dan reformasi yang berakar pada pengalaman lapangan.

Kehadiran yang berulang adalah argumen kuat memotong spekulasi, karena fakta lapangan tak mudah dibantah. Keteguhan justru tampak ketika pujian menipis, namun tetap tawakkal: menyerahkan penilaian pada Yang Maha Menilai, setelah ikhtiar ditunaikan sepenuh hati.

Apresiasi pada kehadiran bukan berarti meniadakan kritik. Kritik tetap dibutuhkan agar kebijakan menjadi lebih baik. Namun keadilan menuntut kita mengakui kebaikan sebagai kebaikan, agar kebajikan tidak menjadi yatim di tengah bising narasi politik.

Menghargai teladan adalah cara merawat nilai, agar ia tetap hidup dan menular ke kepala daerah, ke para pejabat dibawahnya. Sebab nilai kebaikan yang diakui akan tumbuh, sementara nilai yang diabaikan akan layu di tengah bising kecurigaan pencitraan

Dengan memberi apresiasi pada laku Kebajikan yang benar, kita sedang menyalakan kompas moral bersama: bahwa kepemimpinan sejati diukur dari keberanian hadir, kesediaan melayani, dan keteguhan merawat kemanusiaan

Dalam bahasa sufistik, solusi sejati lahir dari jam’iyyah kesatuan niat dan tindakan kolaboratif. Ketika pemimpin turun ke lapangan, sejatinya ia sedang merajut kesatuan, mempercepat keputusan strategis, dan memastikan bantuan menjangkau mereka yang paling rentan.

Kehadiran langsung pemimpin menjadikan kebijakan tidak berhenti sebagai konsep, tetapi menjelma gerak yang berdampak pemulihan yang nyata, harapan yang dipulihkan, dan martabat korban yang ditegakkan dengan kasih. Semoga !


Dr. Eki Baihaki, M.Si, dosen Magister Ilmu Komunikasi UNPAS

Tulisan Terkait

Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua
Info Aktual

Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Januari 19, 2026
Menggugat “Tata Uang” dan Komitmen Menjaga Alam
Info Aktual

Menggugat “Tata Uang” dan Komitmen Menjaga Alam

Desember 18, 2025
Sunda, MMS, dan Masa Depan Indonesia
Info Aktual

Sunda, MMS, dan Masa Depan Indonesia

November 16, 2025
Next Post
Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Discussion about this post

Terkini

Silaturahmi Walikota, Wakil dan Ketua DPRD Cimahi ke Smart Library Garden

Silaturahmi Walikota, Wakil dan Ketua DPRD Cimahi ke Smart Library Garden

Januari 25, 2026
Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Januari 19, 2026
Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka

Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka

Januari 13, 2026
Satgas Percepatan Rehabilitasi & Rekonstruksi Pascabencana Sumatera bisa Menjadi Model Kolaborasi Pentaheliks

Satgas Percepatan Rehabilitasi & Rekonstruksi Pascabencana Sumatera bisa Menjadi Model Kolaborasi Pentaheliks

Januari 11, 2026

Menyajikan berita dan artikel yang informatif, edukatif & kolaboratif

© 2025 DentangId

No Result
View All Result

© 2025 DentangId