• Beranda
  • Blog
  • Halaman Utama
  • Home
  • Home 1
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Home 6
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
No Result
View All Result
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
Home Info Aktual

Komunikasi Kebangsaan Lintas Iman Mewujudkan Cimahi Kota Toleran

Admin Dentang by Admin Dentang
November 9, 2025
in Info Aktual
Komunikasi Kebangsaan Lintas Iman Mewujudkan Cimahi Kota Toleran
124
VIEWS

Program kolaboratif Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Cimahi dan ICMI orda Cimahi dalam platform Kampung Cendekia, yang merupakan ruang pengabdian bersama untuk menumbuhkan semangat kebangsaan, memperkuat nilai toleransi dan meneguhkan komitmen menjadikan Cimahi sebagai kota Peradaban.

Dalam dialog kebangsaan lintas iman ini, kita belajar bahwa perbedaan bukan menjadi alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk saling menyapa dan memahami. Setiap agama membawa pesan suci tentang cinta, kasih sayang, dan perdamaian. Maka kebencian sejatinya tidak memiliki tempat diantara kita.

Untuk menjawab tantangan kerukunan umat beragama, diperlukan komunikasi kebangsaan lintas iman yang berkelanjutan, tidak hanya reaktif terhadap konflik, tetapi proaktif membangun kesadaran kolektif. FKUB, tokoh agama, akademisi, tokoh masyarakat, dan media lokal perlu terus bergandengan tangan memperkuat budaya dialog kebangsaan lintas iman.

Sesungguhnya tidak ada alasan untuk saling membenci, sebab kita semua adalah anak bangsa yang lahir dari rahim yang sama bernama Indonesia. Melalui Dialog Kebangsaan Lintas Iman, kita berikhtiar menanam benih persaudaraan di Cimahi. Tahun 2024 setara menobatkan Cimahi diurutan 25 dari kabupaten dan kota yang ada di Indonesia, kondisi baik baik yang harus terus dirawat.

Dialog Kebangsaan Lintas Iman, dihadiri berbagai tokoh lintas agama, budaya, dan unsur pemerintahan. Hadir di antaranya Pdt. Chita R. Baiin (Kristen), Simon (Konghucu), I Gusti Arya (Hindu), Bunda Yani dari Penghayat Kepercayaan mewakili DKKC, KH Subarna (Islam),Alfian dari FPK Cimahi, Ketut Rumandiana, budayawan Didin Tulus, Febri Ketua Forum TBM Cimahi.

Dari unsur pemerintahan turut hadir bapak Agustus Fajar (Kabid Ideologi dan Wawasan Kebangsaan Cimahi), Camat Cimahi Utara Samsul Maarif, dan Lurah Cipageran Asep Hendrayana, Bapak Alfian (Kepolisian), bersama tokoh Masyarakat para Ketua RW : bapak Suprapto, bapak Johny G.L. Muaya, bapak Riyanto, dan bapak Bambang Umbas.

Keberagaman bangsa akan menghadapi ujian jiwa yang paling halus namun mendalam yaitu kemampuan menjaga persaudaraan di tengah perbedaan. Kota Cimahi, meski kecil secara geografis, menyimpan potensi besar menjadi laboratorium toleransi dan dialog kebangsaan lintas iman di Jawa Barat dan Indonesia.

Dialog kebangsaan diihtiarkan sebagai wujud nyata dari semangat silih asah, silih asih, silih asuh, silih wangi — falsafah luhur budaya Sunda yang mengajarkan pentingnya saling memahami, saling mengasihi, saling membimbing, dan saling menjaga nama baik antar sesama umat beragama

Nilai-nilai ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga fondasi etika komunikasi kebangsaan untuk menumbuhkan rasa persaudaraan lintas iman, meneguhkan Cimahi sebagai Kota Toleran, tempat setiap warga, tanpa memandang agama, suku, atau latar belakang dapat hidup berdampingan dalam harmoni yang indah.

Dalam konteks kebangsaan, nilai islam mengajarkan tentang pentingnya ukhuwah insaniyyah — persaudaraan kemanusiaan yang melampaui sekat suku, agama, dan budaya. Prinsip ini ditegaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman bukanlah sumber perpecahan, melainkan undangan Ilahi untuk saling memahami dan memperkaya makna hakekat kemanusiaan. Dalam bahasa kebangsaan, inilah fondasi komunikasi lintas iman  untuk saling mengenal, saling menghargai, dan saling melengkapi.

Dialog lintas iman yang berjalan santai dan penuh kehangatan, menghadirkan nara sumber dari unsur pemerintah bapak Agustus Fajar (Kabid IDWASBANG), Aa Permana (Sekretaris FKUB Cimahi) dan Eki Baihaki (Sekretaris ICMI orda Cimahi) dan dipandu oleh host TV Harmoni Abi Iwan

Menemukan Makna dalam Keberagaman

Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13, telah menegaskan bahwa keberagaman bukanlah sumber perpecahan, melainkan sarana untuk saling memahami dan memperkaya makna hidup. Para sufi memaknai untuk “saling mengenal” (lita’arafu) proses spiritual untuk mengenal wajah Tuhan melalui wajah sesama manusia.

Jalaluddin Rumi menulis, “Cahaya Tuhan memantul dalam diri setiap makhluk. Maka, siapa pun yang engkau sakiti, engkau melukai pantulan itu.” Rumi mengajarkan bahwa menghormati perbedaan bukan semata etika sosial, tetapi ibadah ruhaniah — bentuk penghambaan melalui cinta kepada sesama manusia

Tantangan Mewujudkan Kota Toleran

Meski tingkat kerukunan di Kota Cimahi tergolong tinggi, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dihadapi dengan bijak dan berkelanjutan. Toleransi bukanlah situasi yang selesai sekali untuk selamanya; ia adalah proses yang terus diuji oleh dinamika sosial, politik, dan arus informasi. Ada tiga tantangan besar :

1. Eksklusivisme yang Masih Menguat di Sebagian Kelompok

Sebagian warga, baik karena latar pendidikan, sosial, maupun pemahaman keagamaan, masih memiliki cara pandang eksklusif, merasa benar sendiri dan menilai umat lain penuh dengan curiga. Pola pikir semacam ini, jika tidak dijembatani dengan dialog dan pembelajaran lintas iman, bisa menjadi bara kecil yang akan membakar harmoni bangsa.

Dalam pandangan sufi, kebenaran ibarat cahaya yang memantul di banyak cermin. Seperti kata Jalaluddin Rumi, “Jangan lihat warna kaca ; lihatlah cahaya yang melewatinya.” Tugas kita bukan memecahkan cermin lain, melainkan menjaga agar setiap pantulan tetap menerangi jalan bersama, yaitu jalan kemanusiaan.

2. Informasi Provokatif di Media Sosial

Gelombang informasi di media sosial sering kali membawa bias informasi, emosi, bahkan ujaran kebencian. Tanpa literasi digital yang kuat, masyarakat mudah terprovokasi oleh narasi sempit yang membenturkan penganut agama satu dengan yang lainnya.

Karenanya, FKUB bersama tokoh agama dan komunitas di Cimahi perlu membangun ekosistem media damai: membuat konten positif, video pendek, podcast lintas iman yang mengedepankan narasi persaudaraan. Sebagaimana pesan Ibn Arabi, “Kata yang baik adalah jembatan antara dua hati yang belum saling mengenal.” Maka komunikasi di ruang digital pun perlu berjiwa kasih, bukan konflik dan amarah.

3. Miskomunikasi karena Perbedaan Tafsir dan Budaya

Cimahi, sebagai kota multietnik dan multikultural, tentu kaya akan tradisi dan cara pandang. Namun kekayaan ini juga membuka potensi miskomunikasi — baik dalam penggunaan simbol, bahasa, maupun ekspresi keagamaan.

Di sinilah pentingnya komunikasi berlandaskan empati hermeneutik, kesediaan membaca makna yang tersembunyi di balik teks dan tindakan orang lain, sebelum memberi penilaian. Sebagaimana diingatkan oleh Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, “Siapa yang ingin memahami orang lain, harus membersihkan hatinya dari kesombongan dan suudzon.”

Menuju Jalan Terang

Menghadapi tantangan tersebut diatas, Cimahi perlu melangkah dengan kekuatan utama: Kebijakan pemerintah daerah yang berpihak pada penguatan moderasi beragama dan pemberdayaan sosial lintas iman. Peran aktif FKUB dalam membangun ruang dialog dalam menjaga narasi damai, baik di ruang publik maupun di dunia digital.

Toleransi sejatinya tidak akan lahir dari peraturan, tetapi dari kesadaran dan kebersamaan. Cimahi memiliki modal budaya “silih asah, silih asih, silih asuh, silih wangi” yang jika terus dihidupkan, akan menjadi model bagi kota-kota lain dalam merawat keberagaman Indonesia.

Seperti diungkapkan Rumi, “Di tempat di mana cinta berdiam, tak ada ruang bagi ketakutan.” Maka selama cinta terhadap sesama terus dirawat, harmoni di Cimahi akan tetap mekar — bukan karena seragamnya warna, tetapi karena indahnya perbedaan, tanpa kebencian dan diskriminasi

Urgensi Komunikasi Kebangsaan

Keragaman tanpa komunikasi akan melahirkan salah paham, kecurigaan, bahkan konflik. Karena itu, komunikasi kebangsaan berperan sebagai jembatan pemersatu. Ia mengajarkan bagaimana berbicara dengan empati, mau mendengar dengan hati, dan bernegosiasi dengan kearifan.

Komunikasi kebangsaan bukan sekadar wacana politik, tetapi praksis moral tentang bagaimana kita memperlakukan sesama warga sebagai saudara sebangsa. Dalam era digital yang sarat polarisasi, komunikasi kebangsaan adalah napas yang menjaga Indonesia tetap utuh, damai, dan beradab.

Dialog Kebangsaan Lintas Iman merupakan ruang penting bagi warga Cimahi untuk meneguhkan jati diri sebagai masyarakat yang inklusif, moderat, dan beradab. Dengan semangat QS. Al-Hujurat ayat 13, kegiatan ini diharapkan mampu meneguhkan pesan luhur: “Keberagaman adalah jalan menuju persaudaraan.”

Menyapa Keberagaman dengan Cinta

Cimahi adalah kota kecil dengan hati yang luas. Di jalan-jalan yang ramai dan di sudut-sudut kampungnya, berdiri masjid, gereja, vihara, dan pura—simbol hidup dari keberagaman yang damai. Dari sanalah suara azan, lonceng, dan kidung mengalun bersama, seperti orkestra kehidupan yang diikat oleh harmoni.

Namun harmoni tidak lahir dengan sendirinya. Ia tumbuh dari kesediaan untuk mendengar yang berbeda, memahami yang lain, dan menahan diri dari keangkuhan identitas. Dalam konteks inilah, dialog kebangsaan lintas iman menjadi napas yang meneguhkan Cimahi menuju cita-cita luhur kota toleran, kota yang menanam kasih di atas perbedaan.

Ayat ini adalah deklarasi Ilahi tentang etika keberagaman, bahwa perbedaan bukan alasan untuk berjarak, melainkan undangan untuk ta‘aruf, saling mengenal, saling belajar, saling menumbuhkan. Sejalan dengan itu, Jalaluddin Rumi menulis dalam Mathnawi

“Lautan itu satu, tetapi ombaknya beraneka. Biarkan

tiap ombak memuji laut dengan caranya sendiri.”

Ungkapan ini menjadi cermin bagi masyarakat Cimahi : walau berbeda keyakinan, semuanya bersumber dari lautan kasih yang sama. Dialog lintas iman bukan berarti menyamakan semua agama, melainkan memahami bahwa setiap agama mengajarkan kebaikan dan cinta kasih.

FKUB Menjadi Jembatan di Tengah Sungai Perbedaan, dalam perjalanan menuju Cimahi Kota Toleran, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menjadi pilar penting. FKUB adalah jembatan yang menghubungkan pulau-pulau keyakinan agar tidak hanyut dalam arus kecurigaan.

Dialog kebangsaan lintas iman, mempertemukan tokoh-tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat sipil dalam ruang yang hangat dan reflektif menjadi program yang berkelanjutan. Mereka akan menjadi mediator ketika ada riak sosial, dan menjadi inspirator ketika suasana bangsa diuji oleh sentimen dan politik identitas.

Komunikasi Kebangsaan sebagai Jalan Sunyi

Komunikasi kebangsaan bukan sekadar bertukar pesan, melainkan ihtiar membangun makna bersama. Dihtiarkan menjadi laku spiritual yang menuntut kesadaran batin. Dalam dunia sufi, diam sering dianggap lebih kuat dari seribu kata.

Tetapi dalam komunikasi kebangsaan, diam tidak selalu bijak bila ketidakadilan tumbuh. Karena itu, berbicara tentang persaudaraan lintas iman harus diiringi keberanian untuk menyuarakan keadilan, kebenaran, dan empati.

Sebagaimana Al-Ghazali mengingatkan dalam Ihya Ulumuddin:

“Lidah adalah cermin hati; siapa yang hatinya penuh kasih,

 lisannya akan membawa kedamaian.”

Maka Cimahi membutuhkan bukan hanya regulasi, tetapi keikhlasan dan ketulusan komunikasi dari pemuka agama, pejabat publik, akademisi, hingga warga biasa — agar setiap tutur menjadi doa, setiap pertemuan menjadi jembatan silaturahmi.

Strategi Merawat Toleransi di Kota Cimahi

Agar harmoni tidak berhenti sebagai jargon, Cimahi perlu menapakkan langkah konkret dalam menumbuhkan budaya saling percaya, saling menghormati, dan saling memahami di antara warganya. Toleransi sejati tidak tumbuh dari pidato atau spanduk, tetapi dari kesadaran yang dijalankan secara terus-menerus.

Berikut beberapa strategi yang dapat menjadi arah gerak bersama untuk merawat Cimahi kota Toleran dan Kota Peradaban :

1. Menguatkan Pendidikan Toleransi

Sekolah dan kampus adalah taman pertama tempat benih toleransi kerukunan beragama ditanam. Melalui pendidikan  diperkenalkan pada kebinekaan sebagai kekayaan, bukan ancaman.

Seperti pesan Jalaluddin Rumi, “Anak panah cinta tidak mengenal dinding pemisah.” Pendidikan menumbuhkan empati, kemampuan memahami perasaan dan mau bekerjasama dengan orang lain, menjadi inti komunikasi kebangsaan.

2. Membangun Media Damai

Cimahi memerlukan media yang bukan hanya cepat memberitakan, tetapi juga cerdas menyejukkan. Media digital maupun cetak, berperan menyuarakan narasi persaudaraan, menampilkan kisah inspiratif tentang kerja sama lintas iman, dan melawan hoaks yang menebar curiga.

Media damai adalah sarana membangun kesadaran publik bahwa berita baik juga penting, dan bahwa harmoni sosial layak diberi ruang seluas-luasnya.

3. Memberdayakan FKUB

Forum Kerukunan Umat Beragama kota Cimahi tidak cukup hanya berfungsi administratif dan pelengkap semata, tetapi perlu tumbuh sebagai lembaga edukatif dan konsultatif yang membimbing masyarakat dalam menghadapi isu-isu keagamaan dengan pendekatan komunikasi kebangsaan.

Melalui pelatihan moderasi beragama, diskusi publik, serta forum konsultatif bagi tokoh masyarakat dan guru, FKUB dapat menjadi ruang aman bagi setiap perbedaan untuk dipertemukan dengan hikmah, bukan dihadapi dengan kecurigaan.Inilah bentuk konkret dari semangat silih asah, silih asih, silih asuh — saling memahami, saling menumbuhkan, dan saling menjaga.

4. Menumbuhkan Kegiatan Sosial Bersama

Dialog yang paling jujur bukan di ruang seminar, melainkan di medan pengabdian. Ketika umat beragama bekerja sama dalam kegiatan sosial membersihkan lingkungan, menanam pohon, menyalurkan bantuan, atau semua kegiatan kemasyarakatan di sanalah persaudaraan menemukan wujudnya

Kegiatan sosial bersama dapat mengikis sekat psikologis dan memperkuat rasa kebersamaan. Ibn Arabi menulis,

“Jangan cari Tuhan di langit atau di kitab;

carilah di hati orang yang kau tolong.”

5. Menjadikan Tokoh Agama sebagai Duta Perdamaian

Tokoh agama memiliki pengaruh moral yang besar di tengah masyarakat. Karena itu, mereka perlu terus dikuatkan sebagai duta perdamaian dan rekonsiliasi bukan sekadar penjaga doktrin atau pengikut kepentingan politik sempit.

Dengan tutur yang menyejukkan dan teladan yang menenangkan, para tokoh lintas agama di Cimahi dapat menyalakan lilin harapan di tengah masyarakat yang haus akan kesejukan batin.

Kearifan Lokal Sunda: Fondasi Etika Dialog Kebangsaan

Budaya Sunda kaya akan nilai-nilai yang mendukung toleransi dan komunikasi kebangsaan. Falsafah “silih asah, silih asih, silih asuh” mengandung makna saling belajar, saling mencintai, dan saling menjaga.

Prinsip “someah hade ka semah” (ramah terhadap tamu) menegaskan bahwa keterbukaan adalah bagian dari identitas orang Sunda. Sementara “tepa salira” (tenggang rasa) menjadi modal penting dalam membangun dialog lintas iman.

Dengan mengintegrasikan nilai lokal Sunda dan semangat religius yang moderat, Cimahi dapat mengembangkan model komunikasi kebangsaan khas Sunda, komunikasi yang : lembut, persuasif, dan berorientasi pada harmoni sosial.

Cimahi Kota Toleran adalah Mimpi yang Bisa Dicapai

Toleransi di Cimahi harus dirawat seperti taman: disiram dengan dialog, dipupuk dengan empati, dan dijaga dari gulma prasangka. Jika lima  ini dijalankan bersama, maka harapan untuk menjadikan Cimahi sebagai Kota Toleran bukan sekadar cita-cita, tetapi kenyataan yang tumbuh dari  budi luhur warganya.

Cimahi memiliki potensi menjadi laboratorium perdamaian di Jawa Barat. Dengan basis masyarakat religius, budaya gotong royong, dan kepemimpinan yang terbuka, Cimahi bisa menunjukkan bahwa kota kecil pun mampu menularkan teladan besar.

Toleransi bukan berarti tidak punya prinsip; ia adalah seni hidup bersama dalam perbedaan. Sebagaimana kata Rumi: “Lampu-lampu berbeda, tetapi cahayanya satu. Ia datang dari tempat yang sama.” Demikian pula Cimahi — rumah bagi banyak lampu iman, tetapi ada cahaya kemanusiaan yang menerangi jalan bersama.

Ketika umat beragama saling menyapa dengan kasih, menolong dalam musibah, dan menghormati ibadah masing-masing, di situlah wajah Tuhan terpancar dalam kemanusiaan. Cimahi yang toleran bukanlah kota tanpa perbedaan, tetapi kota yang mampu menjadikan perbedaan sebagai sumber kebijaksanaan.

Dan sebagaimana dikatakan sufi besar Jalaluddin Rumi:

“Jangan puas hanya dengan cerita orang lain, bagaimana keadaan orang lain. Bukalah kisahmu sendiri.”  Kini, Cimahi sedang menulis kisahnya sendiri kisah tentang komunikasi kebangsaan lintas iman, kisah tentang toleransi yang tumbuh dari hati, kisah tentang kota kecil yang belajar menjadi cahaya bagi Indonesia.

Keragaman agama dan keyakinan di kota ini bukan sekadar statistik sosial, melainkan realitas yang setiap hari hadir di ruang publik, di sekolah, pasar, hingga ruang-ruang keluarga. Tantangannya bukan hanya bagaimana hidup berdampingan tanpa konflik, tetapi bagaimana membangun komunikasi lintas iman yang aktif, hangat, dan saling meneguhkan kemanusiaan.

Di tengah keberagaman sosial dan budaya Indonesia, komunikasi kebangsaan menjadi kunci untuk menjaga keutuhan bangsa. Indonesia adalah rumah bagi beragam suku, bahasa, tradisi, dan agama.

Semua itu bukan penghalang, melainkan anugerah Tuhan yang memperkaya jati diri bangsa. Namun, tanpa komunikasi yang terbuka dan saling menghargai, keberagaman dapat dengan mudah berubah menjadi potensi konflik.

Kota Cimahi, yang dikenal sebagai kota pendidikan, budaya, dan militer, memiliki karakter masyarakat yang dinamis serta majemuk. Karena itu, dialog kebangsaan lintas iman menjadi kebutuhan penting untuk menjaga persaudaraan, memperkuat toleransi, dan menghidupkan kembali semangat kebinekaan dalam kehidupan warga.

Epilog Merawat Indonesia dari Cimahi

Dialog kebangsaan lintas iman adalah cahaya kecil yang menyalakan harapan besar. Dari Cimahi, semangat toleransi dapat menular ke kota lain di Indonesia. Keberadaan FKUB menjadi jantung yang memompa semangat perdamaian ke seluruh sendi kehidupan sosial.

Cimahi dapat menjadi simbol Indonesia mini yang damai, tempat setiap perbedaan dihormati, setiap iman dihargai, dan setiap manusia dimuliakan. Dari kota yang bersahaja ini, komunikasi kebangsaan menemukan bentuknya yang paling indah: menyatukan perbedaan dalam cinta kepada kemanusiaan dan tanah air.

Cimahi memiliki peluang besar untuk tampil sebagai kota toleran dan berperadaban, jika semua elemen masyarakat mampu bersinergi : pemerintah, lembaga keagamaan, komunitas, dan terutama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)


Dr. Eki Baihaki, M.Si, dosen Magister Ilmu Komunikasi UNPAS, Sekretaris ICMI orda Cimahi, Wakil Ketua Doktor Ilmu Komunikasi UNPAD, penulis buku “Komunikasi Kebangsaan Merawat Harmoni Negri” dan Pengurus Forum Pembauran Kebangsaan Jawa Barat.

Tulisan Terkait

Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua
Info Aktual

Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Januari 19, 2026
Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka
Info Aktual

Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka

Januari 13, 2026
Menggugat “Tata Uang” dan Komitmen Menjaga Alam
Info Aktual

Menggugat “Tata Uang” dan Komitmen Menjaga Alam

Desember 18, 2025
Next Post
MBG  Gerakan Amal Kolaboratif Untuk Masa Depan Bangsa

MBG  Gerakan Amal Kolaboratif Untuk Masa Depan Bangsa

Discussion about this post

Terkini

Silaturahmi Walikota, Wakil dan Ketua DPRD Cimahi ke Smart Library Garden

Silaturahmi Walikota, Wakil dan Ketua DPRD Cimahi ke Smart Library Garden

Januari 25, 2026
Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Januari 19, 2026
Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka

Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka

Januari 13, 2026
Satgas Percepatan Rehabilitasi & Rekonstruksi Pascabencana Sumatera bisa Menjadi Model Kolaborasi Pentaheliks

Satgas Percepatan Rehabilitasi & Rekonstruksi Pascabencana Sumatera bisa Menjadi Model Kolaborasi Pentaheliks

Januari 11, 2026

Menyajikan berita dan artikel yang informatif, edukatif & kolaboratif

© 2025 DentangId

No Result
View All Result

© 2025 DentangId