Di tengah riuhnya perbedaan yang sering disalahpahami, FPK Jawa Barat beserta FPK Kabupaten dan Kota memilih jalan sunyi merajut kembali benang-benang persaudaraan yang mulai rapuh. Para relawan kebangsaan yang tak lelah mengingatkan kita, bahwa Indonesia bukan hanya kumpulan wilayah, melainkan jejaring hati dan rasa dari Sabang sampai Merauke.
Rapat kordinasi FPK Jawa Barat dan FPK Cimahi, dilaksanakan 7 November 2025, di kantor Bakesbangpol Cimahi. Dalam rakor tersebut juga, dilaksanakan diseminasi buku “Komunikasi Kebangsaan Merawat Harmoni Negri” dan buku “Layeut jeung Dulur Sanagri”, sebagai bagian dari penguatan kelembagaan FPK Jawa Barat.
Rakor dihadiri Ketua FPK Jawa Barat, DR (HC) Hj. Popong Otje Djundjunan yang akrab disapa “Ceu Popong”, Ketua FPK Cimahi H.TotongSolehudin,S.Sos.,M.Si., Kabid Idwasbang Bakesbangpol Cimahi Agustus Fajar, Wakil Ketua FPK Alfian, Sekretaris FPK Cimahi Andi Khutbah, Berty Ponto dan penulis buku Dr. Eki Baihaki, M.Si
Diseminasi yang sama juga sebelumnya telah dilakukan di forum FPK Kabupaten Bekasi 21 Oktober 2025, dihadiri oleh Akmad Gufron, Ketua FPK Bekasi beserta jajaran pengurus. Dan di forum FPK Kabupaten Bandung Barat, pada 28 Oktober 2025 dihadiri Ketua FPK KBB H. Darman beserta jajaran pengurus dan Kabid Idwasbang Bakesbangpol KBB Dr. Jaja, SE.,MM.

Forum dialog FPK Provinsi dan Kabupaten-Kota, mendiskusikan subtansi isi buku diniatkan sosialisasi sekaligus menghimpun masukan bagi penyempurnaan buku. Buku yang diharapkan bukan sekadar narasi tulisan, melainkan refleksi dari praktik baik, nilai, dan strategi pembauran kebangsaan yang telah berjalan di jajaran FPK Jawa Barat dan 15 kabupaten kota se Jawa Barat yang sudah memiliki kelembagaan FPK.
“Layeut jeung dulur sanagri,” bermakna hangat, menyatu indah dengan saudara sebangsa. Dalam ungkapan Sunda tersimpan nilai yang dalam kebersamaan yang harmoni yang tidak dibatasi oleh etnis dan iman. Spirit ini bukan sekadar semboyan seremonial, melainkan napas keseharian pengurus FPK dalam menjalankan pengabdian kebangsaan di masyarakat.
Menjahit Kembali Anyaman Kebangsaan
Jawa Barat, dengan segala keanekaragaman etnis dan tradisinya, adalah miniatur Indonesia. Dari warga keturunan Tionghoa, Batak, Papua, Sulawesi, Aceh, Sunda, Jawa, India, Bugis dan sebagian dari 1340 etnis lainnya, semua hidup berdampingan saling menyapa, berdialog, saling memahami dan bekerjasama
Namun, di tengah arus informasi yang cepat dan polarisasi sosial yang kian menajam, harmoni ini tak boleh dibiarkan mengalir tanpa penjaga FPK hadir sebagai jembatan dan pengingat, bahwa harmoni perlu dirawat agar tidak berkembang menjadi konflik sesama anak negri.
FPK bergerak di akar rumput, memfasilitasi dialog lintas etnis, menguatkan kearifan lokal, menyelesaikan konflik antar etnis, agar tidak berkembang menjadi bara dan menumbuhkan kesadaran bahwa keberagaman adalah sumber kekuatan bangsa untuk saling belajar.
Dari Ruang Dialog ke Gerak Nyata
Pengabdian FPK tak berhenti di ruang-ruang diskusi yang kaku. Di berbagai kota dan kabupaten, mereka turun ke jalan kehidupan — menjemput harmoni di tengah keberagaman, menggagas kegiatan lintas budaya, dari bakti sosial hingga festival kebangsaan, yang melibatkan berbagai komunitas etnis dan agama.
Di Kota Cimahi, misalnya, semangat itu menjelma dalam gerakan nyata. Dialog Lintas Iman, Etnis, dan Antargenerasi, Festival Sangkuriang, hingga RW Pembauran menjadi ruang hidup tempat orang-orang dari latar berbeda saling menyapa, mengenal, dan bekerja bersama.
Tak ada sekat, tak ada dinding pembatas; hanya wajah-wajah yang tulus dalam kebersamaan, dalam keyakinan bahwa harmoni bukan diwariskan, tetapi diperjuangkan.
Di balik setiap program, mengalir nilai-nilai luhur yang lahir dari rahim budaya Sunda: silih asih, silih asah, silih asuh, jeung silih wawangi — saling mencintai, saling mencerdaskan, saling membimbing, dan saling memuliakan. Itulah empat pilar kearifan yang menuntun langkah FPK Jawa Barat dalam menumbuhkan semangat kebersamaan di tengah keragaman.

Nilai-nilai ini bukan sekadar warisan leluhur, melainkan sumber energi moral untuk membangun tali kebangsaan yang lentur, yang mampu menahan guncangan zaman. Dari Sunda, mereka belajar bahwa menjaga kebangsaan bukan sekadar menjaga simbol, melainkan merawat rasa: rasa hormat, rasa percaya, dan rasa persaudaraan.
Mereka percaya, menjaga tali kebangsaan bukan tugas pemerintah semata, melainkan tanggung jawab moral setiap warga. Ketika FPK turun ke lapangan, mereka tidak hanya membawa narasi kebangsaan, tetapi juga menghadirkan teladan, bagaimana menjadi saudara dalam perbedaan, dan bagaimana membangun negeri dengan kasih.
Menjaga Indonesia dari Hati
Dalam dunia yang kian terbelah oleh informasi dan kepentingan, FPK memilih jalan yang sunyi namun bermakna: menjaga Indonesia dari hati. Karena sejatinya, bangsa ini berdiri bukan hanya di atas dasar hukum, tetapi juga di atas rasa percaya — bahwa setiap manusia di tanah air ini adalah saudara.
Seperti kata pepatah Sunda, “Nu hade kudu disebarkeun, nu goreng ulah diraketkeun.” (Yang baik harus disebarkan, yang buruk jangan dirawat.)
Dan di sanalah makna sejati dari “Layeut Jeung Dulur Sanagri” sebuah ajakan untuk kembali hangat sebagai saudara sebangsa, menjadikan pengabdian sosial sebagai ibadah kebangsaan.

Forum Pembauran Kebangsaan Jawa Barat bukan sekadar lembaga mitra pemerintah. Ia adalah gerakan moral kebangsaan, denyut hati yang hidup dari kesadaran sederhana: bahwa Indonesia hanya akan kuat bila warganya mau saling mendengar, saling memahami, dan berjalan beriringan dalam kasih persaudaraan.
Dari tanah Pasundan yang teduh, FPK Jawa Barat menyalakan lentera kebangsaan itu — kecil, tetapi hangat; sederhana, namun menyinari banyak hati. Mereka tak berteriak soal perbedaan, sebab yang mereka bangun bukan tembok, melainkan jendela kebersamaan, tempat cahaya dan angin kebaikan bisa bebas keluar masuk.
“Kami tidak sedang membangun tembok identitas,” “kami hanya ingin membuka jendela, agar kita bisa saling menyapa sebagai saudara sebangsa.”
Selama semangat itu terus menyala, Indonesia akan selalu punya alasan untuk tersenyum — senyum yang lahir dari keyakinan, bahwa di setiap kabupaten kota di Jawa Barat, di setiap sudut kampung, masih ada yang setia menjaga makna layeut jeung dulur sanagri: hangat bersama saudara sebangsa. Sebab persaudaraan bukan sekadar kata dalam naskah, tetapi perbuatan yang menyejukkan bumi pertiwi.
Dr. Eki Baihaki, M.Si, dosen Magister Ilmu Komunikasi UNPAS, Pengurus Forum Pembauran Kebangsaan Jawa Barat.








Discussion about this post