Bagi saya Ibu “bukanlah insan yang paling kuat secara fisik dan intelektual, beliau adalah mahluk yang memiliki cinta tanpa batas”
Dari cinta itulah lahir daya tahan yang tak kasat mata, kesabaran yang tak terhitung, dan pengorbanan yang tak pernah meminta balasan.
“Cinta adalah energi yang membuat yang lemah menjadi kuat, dan yang biasa menjadi luar biasa,” tulis Rumi.
Maka cinta ibu bukan perasaan sentimental, melainkan kekuatan spiritual penopang peradaban
Saat 14 November 2025 menjadi narsum webinar BKOW Jabar, seorang ibu sepuh meminta agar yang dituturkan dituliskan menjadi buku, permintaan itu sejatinya adalah panggilan nurani. Saya menulis bukan semata dengan tinta, tetapi dengan ingatan dan cinta kepada ibu saya, hormat kepada bunda BKOW Jabar
Maka buku ini kami persembahkan dalam rangka HUT BKOW ke-63 dan Hari Ibu ke-83, dengan tajuk“Semangat Dewi Sartika: Ibu sebagai Cahaya Peradaban”— sebagai penegasan bahwa ibu adalah madrasah pertama keluarga, benteng kokoh dari bahaya narkotika, serta pendidik ekologis yang menanamkan kesadaran merawat bumi sejak dari rumah.

Di tengah ancaman nyata kerusakan alam, krisis moral, dan rapuhnya nilai kemanusiaan, peran ibu hadir bukan sekadar pelengkap, melainkan penjaga nurani peradaban— menyalakan cahaya pendidikan, keteladanan, dan cinta agar generasi tumbuh berakar pada nilai, berdaya menghadapi zaman, dan bertanggung jawab pada kehidupan.
Bumi bukan warisan untuk dihabiskan, melainkan amanah untuk dirawat. Sampah yang dibiarkan menumpuk dan mencemari lingkungan adalah bentuk kelalaian terhadap amanah. Di titik inilah, peran ibu menjadi penentu arah: melalui laku sederhana meneladankan pentingnya mengolah sampah dan menanamkan adab ekologis—bahwa iman tidak berhenti di lisan, tetapi menjelma dalam tanggung jawab terhadap alam.
Ibu, dalam tradisi kampung, adalah penjaga keseimbangan. Kearifan mengelola dapur tanpa mubazir, memanfaatkan sisa sebagai kompos, dan menjaga lingkungan rumah tetap bersih adalah wujud cahaya peradaban ekologis. Pengelolaan sampah tidak sekedar aspek teknis; ia adalah pendidikan karakter, yang dimulai dari rumah dan dibentuk melalui keteladanan ibu.
Di tangan seorang ibu, pengelolaan sampah menjelma menjadi zikir keseharian—jalan sunyi merawat peradaban, yang menumbuhkan iman, disiplin, dan cinta pada bumi dari ruang keluarga, untuk dinyalakan ke ruang yang lebih besar hingga negara.

Dewi Sartika bukan sekadar tokoh sejarah; ia adalah zikir yang bergerak, doa yang menjelma menjadi bakti. Ia membuktikan bahwa pendidikan adalah jalan sunyi menuju kemerdekaan batin. “Ilmu adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati,” ujar Al-Ghazali.
Di tengah keterbatasan, Dewi Sartika menemukan keluasan. Di tengah penjajahan, ia memerdekakan manusia melalui ilmu. Dalam sosoknya, kita melihat bayangan perempuan masa kini—yang memecah sunyi, menjebol batas, dan memikul harapan bangsa di genggaman tangannya.
Pada usia BKOW yang ke-63, kita kembali diingatkan bahwa perempuan adalah cahaya; bila ia baik, baiklah seluruh peradaban. Ibu adalah puisi yang tidak ditulis di atas kertas, melainkan diukir dalam sanubari Ia doa yang tak bersuara namun paling didengar langit,
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu berbuat baik kepada kedua orang tua” (QS. Al-Isra: 23). Pelukannya adalah rumah, bahkan ketika rumah itu tak lagi utuh; cintanya adalah samudera yang tak mengenal surut.
Namun zaman modern membawa terang sekaligus bayang-bayang. Di antara bayang-bayang itu, narkotika menjelma ancaman nyata yang menyusup ke ruang keluarga, merusak generasi, dan memudarkan masa depan. Di titik inilah ibu berdiri sebagai benteng zaman.
Benteng yang dibangun bukan dengan amarah, melainkan dengan cinta, komunikasi, pengetahuan, dan keberanian. “Hati yang hidup akan mampu menjaga, hati yang mati akan membiarkan,” demikian para sufi mengingatkan.
Gerakan pencegahan narkotika bukan sekadar program, melainkan zikir sosial—ikhtiar kolektif menjaga amanah kehidupan. Merayakan Hari Ibu berarti merayakan kasih sekaligus keteguhan perempuan dalam menjaga kehidupan. Ibu adalah bait terindah dalam puisi peradaban.
Ketika ia menjaga anak-anaknya dari bahaya narkotika, di situlah cinta menjelma keberanian. Karena ketika ibu kuat, keluarga kuat; dan ketika keluarga kuat, bangsa berdiri tegak. “Satu rumah yang bercahaya lebih kuat dari seribu benteng yang kosong,” kata hikmah lama para arif.

Kolaborasi BKOW bersama ARTIPENA, ISKI, dan BNN adalah mata air edukasi—membimbing para ibu menjadi komunikator keluarga, pendidik kehidupan, dan penjaga nilai.Kolaborasi ini bukan sekadar kerja kelembagaan, melainkan amal kebangsaan, jihad sunyi yang Kolaborasi BKOW bersama ARTIPENA, ISKI, dan BNN adalah mata air edukasi—membimbing para ibu menjadi komunikator keluarga, pendidik kehidupan, dan penjaga nilai.
Kolaborasi ini bukan sekadar kerja kelembagaan, melainkan amal kebangsaan, jihad sunyi yang dilakukan dengan ilmu, empati, dan cinta. “Berjuanglah tanpa kebencian, dan cintailah tanpa syarat,” pesan sufistik yang relevan bagi setiap ikhtiar merawat bangsa.
Menjaga keluarga adalah amanah utama, menjaga fisik, menjaga jiwa agar tetap bening, menjaga akal agar tetap jernih, dan menjaga masa depan agar tetap bercahaya. “Siapa yang menjaga amanah kecil, Allah akan menitipkan amanah yang lebih besar,” hikmah sufistik mengingatkan kita.
Selamat Hari Ibu, dengan segenap cinta. Sebab pada akhirnya, setiap perempuan adalah penjaga cahaya, dan setiap ibu adalah tiang langit bagi keluarga dan bangsa. Alfatihah, utuk ibu kita yang telah wafat dan doa terbaik untuk semua ibu kita semoga senantiasa diberikan kesehatan dan kebahagiaan lahir batin.
Dr. Eki Baihaki, M.Si, Dosen Pascasarjana UNPAS, Sekjen Aliansi Relawan Perguruan Tinggi Anti Narkotika Jawa Barat







Discussion about this post