• Beranda
  • Blog
  • Halaman Utama
  • Home
  • Home 1
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Home 6
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
No Result
View All Result
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Info Aktual
  • Dentang Artipena
  • TPKSDA Citarum
  • Komunikasi Kebangsaan
  • MCJJ Istimewa
  • Kajian Akademisi
  • TBM Smart Garden
  • Info FPK Jabar
  • ICMI Cimahi
  • Perhumas Bandung
  • Indikasi Unpad
  • BKOW
  • Pustaka
  • Perhumas Bandung
  • Citarum Institute
Home Blog

Sumpah Pemuda dan Semangat “Layeut jeung Dulur Sanagri”

Admin Dentang by Admin Dentang
Oktober 28, 2025
in Blog
Sumpah Pemuda dan Semangat “Layeut jeung Dulur Sanagri”
16
VIEWS

Di antara 1.340 suku bangsa dan 718 bahasa daerah, Indonesia tumbuh sebagai taman keanekaragaman yang menakjubkan. Dari Sabang hingga Merauke, setiap daerah menyimpan bahasa, adat, dan kebijaksanaan lokal yang unik.

Di tengah perbedaan yang nyaris tanpa jembatan, para pemuda  mengikrarkan kalimat sakral, Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia. Sejak itu, bahasa bukan lagi sekadar alat bicara, melainkan tali yang menjahit perbedaan menjadi kebersamaan, menyatukan kepingan pulau menjadi satu nama: Indonesia.

Namun, hampir satu abad setelah Sumpah Pemuda diucapkan, kita perlu jujur dan mengakui, bahasa Indonesia memang telah mempersatukan lidah kita, tetapi apakah sudah mampu sepenuhnya menyatukan hati kita ?

Bahasa menjadi alat komunikasi, tetapi belum selalu menjadi jembatan pemahaman. Kita bisa bercakap dengan bahasa yang sama, namun masih sering terpisah oleh prasangka, sektarianisme, ego sektoral dan ambisi kekuasaan.

Spirit “Layeut jeung Dulur Sanagri”, menuntun kita  untuk akrab dan dengan saudara sebangsa meski beda etnis dan iman. Sebuah ajakan untuk merawat kehangatan kebangsaan, memelihara empati sosial di tengah perbedaan yang ada.

Namun, tantangan masa kini berbeda dengan zaman penjajahan. Jika dahulu perjuangan menghadapi kekuatan asing jelas bentuknya, kini kita berhadapan dengan musuh yang lebih halus yaitu sesama anak bangsa.

Mereka menyusup dalam bentuk perbedaan kepentingan, fanatisme kelompok, dan ketidakmampuan berkolaborasi. Sebagaimana pesan Bung Karno yang tetap relevan hingga hari ini: “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah.Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Pesan itu bukan kritik, tetapi pengingat bahwa musuh terbesar bangsa hari ini bukan orang lain, melainkan ketidakmauan untuk bekerja bersama. Di tengah era digital yang cepat dan individualistik, maka semangat kolektif harus kembali dikobarkan.

Karena itu, memperingati Sumpah Pemuda berarti meneguhkan kembali jati diri kita sebagai bangsa yang layeut, merasa bersaudara tanpa sekat, bekerja bersama tanpa pamrih, dan berjuang bersama tanpa merasa lebih tinggi dari yang lain untuk kejayaan Indonesia.

Kata-kata kini mudah meledak di ruang nyata dan digital, lebih tajam dari pedang, lebih cepat membelah dari menyatukan. Bahasa yang dulu membangun bangsa, kini kadang melukai sesama. Kita lupa bahwa komunikasi bukan sekadar berbicara, tetapi menyapa dengan hati.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:“Wahai manusia, Kami ciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Ayat itu mengajarkan falsafah komunikasi kebangsaan, bahwa perbedaan adalah undangan untuk saling menyapa dan mengenal, bukan alasan untuk saling menjauh.

Maka komunikasi kebangsaan adalah jalan spiritual untuk berbicara dengan iman, akal, mendengar dengan empati, dan menyatukan dengan cinta. Dalam setiap agama, ada cahaya yang sama, yaitu ajaran untuk berkata baik dan hidup dalam kasih.

Islam menuntun umatnya agar berkata benar (qaulan sadida) dan lembut (qaulan layyina).Kristen mengajarkan, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39).Hindu menegaskan Satya (kebenaran) dan Ahimsa (tidak menyakiti).Buddha menuntun pada Samma Vaca — ucapan benar yang menenangkan batin.Konghucu menekankan Li (kesopanan) dan Ren (kemanusiaan).

Semua ajaran mulia itu melandasi semangat Sumpah Pemuda, yang menyatukan yang berbeda dengan bahasa kasih. Bahasa adalah jembatan jiwa, bukan tembok ego. Bahasa yang baik bukan hanya indah didengar, tapi menyembuhkan luka perbedaan.

Sufi besar Jalaluddin Rumi pernah menulis, “Antara benar dan salah, ada taman yang luas. Aku akan menemuimu di sana.” Taman itulah yang dulu ditanami para pemuda 1928, taman kesadaran dan pengertian. Mereka tidak bicara siapa paling benar, tapi bagaimana bisa bersama. Mereka sadar, bangsa besar tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kerelaan untuk saling mendengar.

Hamka pernah menulis,“Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki cita-cita tinggi, tetapi juga tahu menghormati cita-cita orang lain.” Sumpah Pemuda adalah cita-cita yang menyatukan, bukan memaksa satu warna, tapi memeluk seluruh pelangi Indonesia. Pendiri bangsa mengingatkan mengingatkan kita, “Indonesia ini ada bukan untuk satu golongan, tapi untuk semua.”

Bangsa ini tidak akan runtuh oleh perbedaan, tetapi oleh kata-kata yang kehilangan kasih. Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa bahasa adalah kekuatan spiritual. Ia bukan sekadar alat berpikir, tetapi alat menyembuhkan. Bahasa yang baik menumbuhkan persaudaraan, sedangkan bahasa yang buruk menumbuhkan kecurigaan.

Karena itu, peringatan ke-97 tahun Sumpah Pemuda sebagai momentum menyucikan bahasa. Menjadikan kata-kata sebagai jalan ibadah — berbicara untuk memperbaiki, bukan mencaci; untuk menyatukan, bukan menceraikan. Seperti pesan sufi Ibn Arabi, “Kata-kata adalah cermin hati. Bila hatimu jernih, maka setiap kata akan menjadi cahaya.”

Cahaya itu yang kita butuhkan hari ini, cahaya yang menerangi ruang publik yang gelap oleh kebencian, dan hati yang mulai dingin oleh prasangka. Komunikasi kebangsaan harus menjadi lentera yang menyalakan semangat persaudaraan, menghangatkan kembali cinta tanah air, dan menuntun bangsa menuju peradaban yang berjiwa.

Di usia ke-97 Sumpah Pemuda ini, mari kita bisikkan sekali lagi sumpah pemuda, bukan di podium, tapi di dalam hati. Bahwa kita satu jiwa, satu bangsa, dan satu Bahasa Indonesia. Bahasa yang penuh kasih, bahasa kebenaran, bahasa kemanusiaan dan persaudaraan bangsa ini akan tetap bernyawa.

Ketika kata lahir dari kasih, ia menjadi doa yang menyembuhkan, bukan luka yang memisahkan. Bahasa yang dituturkan dengan hati mampu menyalakan kembali bara persaudaraan yang nyaris padam di dada kita, mampu menembus sekat suku, agama, dan daerah seluruh anak negeri.

Selama kita  masih berbicara dengan ketulusan, menulis dengan kejujuran, dan mendengar dengan empati, maka Indonesia akan tetap menyala di hati kita semua.
Karena sejatinya, bangsa ini berdiri bukan di atas kekuasaan,melainkan di atas cinta yang menjadikan kata sebagai cahaya bagi Indonesia penuh harmoni dan berkah. Semoga !

Dr. Eki Baihaki, M.Si Dosen Pasca Sarjana UNPAS, Pengurus Forum Pembauran Kebangsaan Jawa Barat, Alumni PPNK 221 Lemhannas dan Pembina Forum Taman Baca Cimahi.

Tulisan Terkait

Sunda, KDM dan Doni Monardo Contoh Teladan Kepemimpinan Ekologis
Blog

Sunda, KDM dan Doni Monardo Contoh Teladan Kepemimpinan Ekologis

November 24, 2025
Smart Garden, Ruang Publik yang Bisa Jadi Peluang Usaha dan Distribusi Makanan Sehat
Blog

Smart Garden, Ruang Publik yang Bisa Jadi Peluang Usaha dan Distribusi Makanan Sehat

Oktober 9, 2024
Next Post
Menjadi “Muadzin” Komunikasi Kebangsaan

Menjadi “Muadzin” Komunikasi Kebangsaan

Discussion about this post

Terkini

Silaturahmi Walikota, Wakil dan Ketua DPRD Cimahi ke Smart Library Garden

Silaturahmi Walikota, Wakil dan Ketua DPRD Cimahi ke Smart Library Garden

Januari 25, 2026
Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Merawat Akselerasi “Cimahi Zero TPA” Tanggung Jawab Kita Semua

Januari 19, 2026
Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka

Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Luka

Januari 13, 2026
Satgas Percepatan Rehabilitasi & Rekonstruksi Pascabencana Sumatera bisa Menjadi Model Kolaborasi Pentaheliks

Satgas Percepatan Rehabilitasi & Rekonstruksi Pascabencana Sumatera bisa Menjadi Model Kolaborasi Pentaheliks

Januari 11, 2026

Menyajikan berita dan artikel yang informatif, edukatif & kolaboratif

© 2025 DentangId

No Result
View All Result

© 2025 DentangId