BKOW Jawa Barat bersama BNN, ARTIPENA Jawa Barat dan Internasional Women University (IWU) melangkah dalam satu misi mulia menguatkan ketahanan keluarga. Ihtiat yang didukung oleh 107 organisasi wanita di bawah payung BKOW, kolaborasi yang menghadirkan energi besar menyatukan kepedulian dan kekuatan melawan bahaya narkotika
Keluarga adalah pondasi peradaban, madrasah pertama yang menentukan arah masa depan. Di tengah ancaman narkotika yang kian masiv, sinergi ini menjadi benteng bersama, menjaga agar setiap rumah tetap menjadi tempat tumbuhnya harapan, keselamatan, dan masa depan yang lebih baik.
Narkotika bukan hanya merusak jiwa dan raga, juga memutus asa. Ia mengelabui generasi muda dan orang tua dengan kebahagiaan semu sesaat, yang mampu memadamkan harapan yang sedang tumbuh, dan meninggalkan luka yang tak selalu tampak di permukaan.
Karena itu, keluarga perlu membangun benteng dari bahaya narkotika dengan kepedulian, cinta yang tulus, etika dan spiritualitas, nilai hidup sehat, serta keberanian menjaga dari godaan narkotika
Ancaman narkotika hari ini tidak selalu datang dengan wajah keras; ia masuk secara senyap, merayap sunyi melalui media sosial dan percakapan digital.

Hanya keluarga yang hangat, penuh dialog, dan kuat dalam nilai yang mampu menjadi pelindung pertama bagi anak-anaknya. Keluarga menjadi benteng utama peradaban. Keluarga tempat anak mengenal cinta, disiplin, akhlak, dan makna hidup yang menentukan arah kehidupan seorang anak.
Ketika fondasi keluarga kuat, peradaban bangsa berdiri kokoh. Keluarga adalah ruang pertama tempat cinta dipelajari, nilai dibentuk, dan karakter ditempa. Dari meja makan yang sederhana hingga percakapan lirih sebelum tidur, di sanalah masa depan bangsa disulam pelan-pelan.
Psikologi perkembangan menegaskan bahwa keluarga adalah “variabel pelindung” utama dalam pembentukan daya lenting atau ketahanan anak. Seperti yang sering diingatkan, peradaban tidak runtuh dari serangan luar, tetapi dari rumah-rumah yang kehilangan kehangatan kasih dan arah pengasuhannya.
Riset menunjukkan bahwa 44,9% remaja yang terpapar narkotika dipengaruhi oleh kondisi keluarga. Angka ini bukan sekadar data, tetapi cermin dan alarm. Bahwa pola hubungan keluarga yang dingin, tidak hangat, atau tidak responsif merupakan predictor atau pemicu kuat dari perilaku bermasalah.
Urie Bronfenbrenner pun menempatkan keluarga sebagai microsystem terpenting—lingkungan yang paling langsung membentuk cara anak berpikir, merasakan, dan memilih. Ketika komunikasi merenggang, ketika perhatian melemah, ketika validasi hilang, anak-anak cenderung mencari pelarian di luar rumah, termasuk pada lingkungan yang berisiko tinggi.
Karena itu, ketahanan keluarga bukan sekadar isu domestik, melainkan urusan peradaban. Psikologi keluarga menyebutnya sebagai ecosystem of resilience—ekosistem ketahanan yang menentukan kualitas generasi unggul atau bermasalah dikemudian hari
Investasi terbaik bangsa bukan hanya infrastruktur atau teknologi, tetapi memastikan setiap rumah menjadi tempat tumbuhnya kasih, kehangatan, dan arah moral. Ketika keluarga kembali kokoh, Indonesia menemukan kembali pijakan yang kua dan lebih berpengharapan.
Narkotika hari ini bukan ancaman konvensional. Modus penyebarannya semakin halus—melalui media sosial, gim daring, komunitas pergaulan, bahkan layanan pesan instan. Targetnya jelas: remaja dan usia produktif. Mereka disasar bukan hanya sebagai pengguna, tetapi sebagai pasar masa depan.
Mengapa Keluarga Menjadi Kunci?
Ketahanan keluarga ditentukan oleh kualitas relasinya. Ada empat faktor risiko yang selama ini terbukti membuka pintu bagi kerentanan remaja terhadap bahaya narkotika :
Pertama : Kualitas Komunikasi, banyak keluarga tinggal serumah, namun tidak sungguh-sungguh dirasakan hadir satu sama lain. Anak merasa takut bercerita, sementara orang tua lebih sering memberi perintah daripada berdialog. “Komunikasi keluarga yang buruk adalah salah satu pemicu perilaku bermasalah pada remaja.”
Kedua : Orang Tua Terlalu Sibuk, kesibukan membuat waktu berkualitas menipis. Ahirnya anak mencari perhatian di luar rumah, dari celah inilah yang kerap dimanfaatkan para bandar narkotika, untuk menjaring konsumen yang akan terus dibuat ketagihan.
Ketiga : Lemahnya Akhlaq dan Spiritualitas, tanpa kompas moral, anak mudah terseret arus pergaulan salah. Nilai agama dan etika menjadi penopang karakter dan kemampuan anak untuk menolak tekanan teman sebaya, termasuk godaan mencoba narkotika.
Keempat Lingkungan Permisif: normalisasi perilaku berisiko di media sosial, konten destruktif, dan pergaulan tanpa kontrol mempercepat kerentanan remaja. Keempat faktor ini harus dibaca sebagai titik rawan, bukan sekadar kelemahan. Jika dikenali sejak awal, keluarga dapat membangun langkah-langkah mitigasi dan penguatan.
Peran Strategis Wanita
Dalam struktur keluarga, wanita—sebagai ibu, istri, pengasuh, sekaligus figur teladan—memegang peran yang sangat strategis. Wanita adalah penjaga nilai, pengatur emosi keluarga, sekaligus gatekeeper yang menentukan masuk-tidaknya pengaruh negatif ke dalam rumah.
Di sinilah kehadiran BKOW Jawa Barat, bekerja sama dengan BNN dan ARTIPENA dan Internasional women University menjadi sangat penting. Kolaborasi membangun edukasi, kampanye, dan gerakan sosial yang menguatkan peran keluarga dalam mencegah ancaman narkotika.

Narkotika bukan hanya merusak individu, tetapi merusak masa depan bangsa. Karena itu, keluarga harus menjadi benteng pertama dan utama. Keluarga yang komunikatif, spiritual, penuh kasih, dan saling percaya akan menumbuhkan generasi yang tangguh, tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh buruk zaman.
Para Wanita dan ibu senantiasa meningkatkan kualitas komunikasi, membuka pintu dialog, mengajak ayah untuk lebih dekat, mengajak anak-anak bercerita tanpa takut, karena komunikasi adalah jembatan, bukan penghakiman. Karena keluarga yang saling mendengar akan lebih kuat daripada ancaman apa pun yang mengetuk dari luar.
Narkotika bukan hanya racun bagi tubuh, tetapi racun bagi harapan.
Ia meretakkan mimpi, memadamkan cahaya, meninggalkan luka yang tak selalu terlihat mata. Karena itu, keluarga mesti berdiri sebagai benteng.
Benteng yang dibangun bukan dari tembok, tetapi dari nilai, cinta, dan keteguhan hati.
Dan ketika keluarga kembali kuat, ibu menjadi mata air, ayah menjadi telaga keteduhan, ketika anak sudah merasa rumahnya adalah tempat pulang—maka bangsa pun akan tegak. Narkotika akan kehilangan jalannya. Dan kita akan melihat masa depan yang lebih jernih tumbuh dari ruang-ruang kecil bernama rumah.
BKOW Jawa Barat bersama BNN, ARTIPENA Jabar dan International Women University, berjalan dalam satu langkah untuk menguatkan keluarga, bukan hanya dengan pengetahuan, juga kesadaran dan aksi nyata bahwa mencegah narkotika adalah mencegah runtuhnya masa depan Bangsa.
Dr. Eki Baihaki, M.Si, Dosen Magister Komunikasi Pascasarjana UNPAS dan Pengurus Aliansi Relawan Perguruan Tinggi Anti Narkotika (Artipena Jabar)







Discussion about this post